Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 November 2025 | 18.07 WIB

Bitcoin, Ethereum, dan Solana Kena Gelombang Likuidasi Rp 21 Triliun, 90% Trader Long Rugi Besar!

Ilustrasi harga Bitcoin yang anjlok atau bearish. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi harga Bitcoin yang anjlok atau bearish. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Gelombang besar likuidasi melanda pasar kripto global setelah harga Bitcoin (BTC) anjlok tajam dari USD 112.000 ke bawah USD 106.000 atau dari sekitar Rp 1,85 miliar ke Rp 1,74 miliar. Menurut laporan CoinDesk, Selasa (4/11), peristiwa ini menghapus lebih dari USD 1,27 miliar (Rp 21 triliun) posisi berleverage dalam waktu kurang dari 24 jam.

Dari jumlah tersebut, trader long (mereka yang bertaruh harga akan naik) menanggung kerugian terbesar. Hampir 90% dari total posisi yang terlikuidasi, senilai USD 1,14 miliar (Rp 18,8 triliun), berasal dari posisi bullish yang terpaksa ditutup otomatis karena margin tidak mencukupi.

Data dari CoinGlass menunjukkan lonjakan likuidasi ini merupakan yang terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Sementara trader short hanya kehilangan sekitar USD 128 juta (Rp 2,1 triliun), posisi long menjadi korban utama akibat penolakan harga Bitcoin di atas USD 113.000 (Rp 1,86 miliar).

Proses likuidasi di bursa derivatif kripto terjadi secara otomatis ketika posisi berleverage tidak lagi memenuhi batas margin minimum. Saat harga bergerak berlawanan dengan arah posisi trader, sistem bursa akan menutup posisi secara paksa dengan menjual aset tersebut ke pasar terbuka.

“Lonjakan likuidasi besar seperti ini sering kali menjadi sinyal kapitulasi jangka pendek, di mana pasar menghapus leverage berlebihan sebelum memulai fase stabilisasi baru,” tulis CoinDesk.

Bursa Hyperliquid memimpin dalam jumlah likuidasi, mencatat USD 374 juta (Rp 6,17 triliun) posisi paksa, 98% di antaranya posisi long. Disusul oleh Bybit dengan USD 315 juta (Rp 5,2 triliun) dan Binance dengan USD 250 juta (Rp 4,1 triliun).

Likuidasi tunggal terbesar terjadi di bursa HTX, di mana posisi BTC-USDT long senilai USD 33,95 juta (Rp 560 miliar) ditutup paksa.

Menurut analis, struktur order book yang tipis di sebagian besar bursa memperburuk penurunan harga. Penurunan cepat ini diperparah oleh aktivitas jual berantai (cascading liquidations) yang terjadi selama jam perdagangan dengan likuiditas rendah.

Bukan hanya Bitcoin, Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) juga mengalami tekanan besar. Total likuidasi di dua aset tersebut melampaui USD 300 juta (Rp 4,95 triliun). Sementara sebagian besar altcoin lainnya ikut melemah di tengah merosotnya minat spekulatif dan risiko leverage tinggi.

“Kondisi ini menunjukkan pasar sedang mengalami fase pembersihan, di mana leverage berlebihan dikurangi dan pelaku pasar spot mulai mengambil alih posisi,” tulis laporan CoinDesk.

Meskipun gelombang likuidasi ini bisa menjadi momen “reset” bagi pasar, analis memperingatkan bahwa volatilitas kemungkinan masih berlanjut. Open interest di pasar derivatif tetap tinggi di sekitar USD 30 miliar (Rp 495 triliun), sementara funding rate baru sedikit melonggar.

Trader kini bersikap lebih hati-hati menjelang keputusan suku bunga The Federal Reserve akhir pekan ini, yang bisa menentukan arah pasar selanjutnya.

Untuk saat ini, Bitcoin masih berjuang bertahan di kisaran USD 106.000 (Rp 1,74 miliar). Jika tekanan jual berlanjut, analis memperkirakan potensi penurunan ke USD 103.500 (Rp 1,7 miliar) sebelum muncul sinyal pembalikan yang lebih kuat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore