Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Oktober 2025 | 17.04 WIB

Analis Wall Street: Bitcoin Bisa Naik ke Rp 2,8 Miliar! Ini 3 Faktor Pendorongnya

Ilustrasi harga Bitcoin yang terus meroket naik. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi harga Bitcoin yang terus meroket naik. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Optimisme besar kembali menyelimuti pasar Kripto. Analis institusi keuangan memperkirakan Bitcoin dapat melonjak ke USD 175.000 atau sekitar Rp 2,89 miliar dalam 12 bulan mendatang.

Prediksi ini muncul di tengah meningkatnya permintaan institusional, ekspansi pasokan uang global, dan adopsi dompet digital yang terus tumbuh pesat.

Dikutip JawaPos.com, Rabu (22/10), lembaga jasa keuangan Siebert Financial (Nasdaq: SIEB) merilis laporan riset yang memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai USD 175.000 dalam setahun.

Laporan yang ditulis oleh analis riset Brian Vieten tersebut menggunakan model tiga faktor untuk menghitung proyeksi harga, dengan mempertimbangkan pertumbuhan pasokan uang, adopsi jaringan, dan dinamika permintaan Bitcoin.

Vieten menjelaskan bahwa model proyeksi tersebut mempertimbangkan tiga variabel utama. Pertama, kenaikan 7% pada pasokan uang global, yang menurut Siebert akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan dan menguntungkan aset penyimpan nilai seperti emas, saham, dan Kripto.

Kedua, ekspansi 25% jumlah dompet digital yang didorong oleh peningkatan penggunaan stablecoin dan tokenisasi aset. Ketiga, kenaikan 20% permintaan Bitcoin, meskipun masih sekitar 60% di bawah puncaknya pada 2021.

“Kami memulai liputan aset digital dengan target harga Bitcoin di USD 175.000 berdasarkan model tiga faktor kami,” ujar Vieten dalam laporan tersebut.

Ia menambahkan, “Dengan latar belakang ini, kami memperkirakan investasi di ruang aset digital akan mengalami percepatan selama 12 bulan ke depan.”

Dalam laporannya, Vieten menegaskan peran sentral Bitcoin di ekosistem aset digital. “Kami menganggap Bitcoin sebagai aset digital ‘genesis’ dan barometer industri, mewakili sekitar 60% dari total kapitalisasi pasar,” tulisnya.

Vieten juga menyampaikan keyakinannya bahwa teknologi blockchain akan menjadi tulang punggung sistem keuangan global di masa depan. “Kami percaya bahwa suatu hari nanti, blockchain akan menggerakkan hampir seluruh sistem keuangan dunia bagi 8 miliar orang,” ujarnya.

Saat ini, terdapat sekitar 700 juta dompet aset digital di seluruh dunia. “Angka ini menunjukkan bahwa kita baru mencapai kurang dari 10% dari total potensi adopsi industri,” jelas Vieten.

Siebert Financial menilai Amerika Serikat kini berada di ambang adopsi besar-besaran aset digital, terutama di bidang tokenisasi dan stablecoin. Perubahan iklim regulasi yang semakin positif di negara tersebut diyakini akan mempercepat pertumbuhan industri.

“Kami percaya Amerika Serikat berada di ambang adopsi luas aset digital, didorong oleh regulasi yang makin jelas dan dukungan pemerintah terhadap inovasi blockchain,” tulis Siebert.

Perusahaan itu memperkirakan jumlah dompet digital akan meningkat hingga mendekati 1 miliar dalam 12 bulan ke depan, seiring meningkatnya kepercayaan investor dan kemajuan regulasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore