
Ilustrasi bitcoin yang sedang "tertidur" karena tidak ada pergerakan market yang signifikan. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Kenaikan harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir memang mencatatkan kenaikan nyaris 2 persen dan kini berada di sekitar USD 113.400 atau setara Rp 1,84 miliar. Namun, di balik pergerakan harga itu, para analis mulai mengkhawatirkan melemahnya likuiditas pasar kripto secara keseluruhan.
Laporan dari perusahaan analitik on-chain CryptoQuant menyebutkan bahwa pertumbuhan kapitalisasi pasar stablecoin mengalami perlambatan tajam. Saat ini, aliran dana ke stablecoin hanya naik sekitar USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 17,9 triliun per minggu. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan inflow sebelumnya yang mencapai USD 7,7 miliar pada akhir 2024 dan USD 6,6 miliar pada Januari lalu.
Stablecoin sendiri merupakan jenis aset kripto yang nilainya dipatok ke mata uang fiat, terutama dolar Amerika. Umumnya, investor menyimpan dana dalam bentuk stablecoin untuk menghindari volatilitas harga dari Bitcoin dan altcoin. Namun, stablecoin juga sering dianggap sebagai “bahan bakar” yang siap digunakan untuk masuk kembali ke aset volatil ketika pasar kembali bergairah.
Menurut CryptoQuant, saat inflow ke stablecoin tinggi, itu menjadi sinyal pasar akan kembali ramai. Sebaliknya, saat pertumbuhan stagnan, seperti sekarang, itu menunjukkan gairah investor sedang menurun. “Tailwinds atau angin penopang likuiditas saat ini melemah, dan ini bisa membatasi momentum kenaikan Bitcoin,” tulis laporan tersebut, Jumat (29/8).
Grafik dari CryptoQuant menunjukkan bahwa meskipun awal bulan ini sempat terjadi lonjakan inflow stablecoin hingga USD 4,8 miliar, aliran dana tersebut cepat menghilang. Sekarang, angka inflow turun drastis ke USD 1,1 miliar. Ini memperkuat asumsi bahwa sentimen pasar sedang dalam fase jenuh atau setidaknya menahan diri.
Namun, ada satu kabar positif yang datang dari Glassnode. Firma analitik on-chain tersebut mengungkapkan bahwa Relative Unrealized Loss atau kerugian belum terealisasi yang dimiliki investor Bitcoin saat ini tergolong rendah.
Nilainya hanya 0,5 persen dari total kapitalisasi pasar, yang berarti sebagian besar investor masih “menahan” posisi mereka dan tidak buru-buru menjual meskipun harga sempat terkoreksi. Sebagai perbandingan, di masa-masa bear market sebelumnya, angka ini bisa jauh lebih tinggi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski tekanan dari sisi likuiditas mulai terasa, pasar belum memasuki fase panik. Para investor tampaknya masih percaya bahwa reli lanjutan bisa terjadi, asalkan ada pemicu kuat dari sisi fundamental maupun sentimen global.
Dengan melemahnya aliran dana masuk ke stablecoin, yang biasa digunakan untuk membeli Bitcoin dan altcoin lainnya, pasar kemungkinan besar akan bergerak lambat dalam waktu dekat. Apalagi, jika kondisi ini berlanjut menjadi outflow atau penarikan dana, tekanan jual bisa muncul.
Hingga kini, investor menanti apakah The Fed akan benar-benar memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Jika itu terjadi, likuiditas bisa kembali meningkat dan memicu arus masuk baru ke pasar kripto.
Namun untuk saat ini, meski Bitcoin naik tipis, pasar masih dalam posisi waspada. Tanpa dukungan likuiditas yang memadai dari stablecoin, peluang untuk terjadinya reli besar bisa jadi akan tertunda.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
