Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 16.58 WIB

Jerome Powell Luluhkan Pasar: Bitcoin, Ethereum, dan Bursa Global Langsung Meroket

Ilustrasi market kripto yang menunggu pernyataan The Fed lewat pidato Jerome Powell. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam simposium ekonomi Jackson Hole, Jumat pagi waktu Amerika Serikat atau Jumat (23/8) malam WIB, menjadi pemantik reli besar-besaran di pasar global.

Bitcoin langsung melesat dari kisaran USD 112.000 ke level intraday tertinggi di USD 116.063 atau setara Rp 1,89 miliar (kurs Rp 16.300). Ethereum juga menyentuh all time high dengan mencapai USD 4.891, merespons sinyal dovish yang diberikan Powell terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Powell menekankan bahwa bank sentral tidak berada dalam jalur kebijakan yang kaku. Ia menyebut kondisi saat ini masih “restrictive,” namun memberi perhatian serius pada risiko melemahnya pasar tenaga kerja. Ia menyiratkan bahwa jika pertumbuhan pekerjaan terus melambat dan pengangguran naik, maka pengetatan moneter bisa dikendurkan.

Powell juga mengisyaratkan perubahan kerangka kebijakan The Fed. Strategi inflasi make-up dihilangkan, begitu juga istilah “shortfalls” dalam pasar kerja. Revisi ini dianggap pasar sebagai sinyal jelas bahwa The Fed akan lebih fleksibel dan tidak seagresif sebelumnya dalam menaikkan suku bunga.

Pasar pun langsung bereaksi. Dikutip dari news.bitcoin, Sabtu (23/8), Bitcoin melonjak lebih dari USD 3.000 hanya dalam hitungan jam. Indeks saham Amerika juga ikut terbang.

Dow Jones menutup perdagangan dengan rekor tertinggi, S&P 500 naik 1,47 persen, dan Russell 2000, yang berisi saham-saham kecil dan sensitif terhadap suku bunga, melonjak 3,8 persen. Saham properti dan sektor yang bergantung pada pembiayaan juga ikut menguat.

Namun di balik euforia itu, tidak sedikit analis yang tetap waspada. Dikutip dari Reuters, beberapa investor menilai pasar mungkin terlalu cepat berspekulasi. Mereka khawatir akan potensi stagflasi, yakni gabungan antara pertumbuhan yang stagnan dengan inflasi yang membandel. Ini terlihat dari masih tingginya harga grosir bulan Juli, yang bisa membatasi ruang The Fed untuk memangkas suku bunga lebih dalam.

Matthew Miskin dari Manulife John Hancock Investments menilai bahwa pasar sudah “mengunci” kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September. Namun ia mengingatkan, "Apa yang terjadi setelah itu masih belum pasti." Sementara Drew Matus dari Metlife Investment Management menyebutkan bahwa meski ada pertumbuhan, kondisi ekonomi “tidak akan terasa menyenangkan.”

Optimisme tetap ada. Paul Eitelman dari Russell Investments menyatakan, jika The Fed mulai memangkas suku bunga secara bertahap, maka pantas jika aset berisiko seperti saham dan kripto kembali pulih.

Menurut data LSEG, probabilitas pasar terhadap pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September meningkat dari 70 persen menjadi 80 persen usai pidato Powell. Imbal hasil obligasi dua tahun langsung turun 10 basis poin ke level 3,69 persen, sementara obligasi 10 tahun turun ke 4,26 persen.

Namun sinyal dovish ini juga melemahkan Dolar AS. Indeks Dolar turun 1 persen terhadap mata uang utama dunia, termasuk Yen dan Euro. Analis Corpay, Karl Schamotta, menyebut pelaku pasar kini mulai melihat potensi keuntungan lebih besar di luar Amerika Serikat.

Dalam konteks geopolitik, tekanan politik dari Presiden Donald Trump terhadap The Fed juga semakin terasa. Powell bahkan harus menjawab tudingan bahwa kemerdekaan bank sentral sedang terancam, terlebih setelah Trump mendesak salah satu gubernur The Fed, Lisa Cook, untuk mundur.

Meski demikian, Powell menegaskan bahwa kebijakan The Fed tetap berdasarkan data dan tidak akan menyimpang dari jalur tersebut. "Kami tidak berada di jalur yang sudah ditentukan," katanya, menekankan bahwa setiap keputusan akan diambil berdasarkan data ekonomi terbaru.

Pidato tersebut sekaligus menjadi penampilan terakhir Jerome Powell di simposium Jackson Hole sebagai Ketua The Fed. Masa jabatannya akan berakhir pada Mei tahun depan, dan dunia kini menanti siapa penggantinya, dan arah kebijakan seperti apa yang akan diambil selanjutnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore