Ilustrasi harga bitcoin yang terus naik. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Bitcoin kembali mencetak sejarah baru. Pada Kamis (11/7), harga aset kripto ini resmi menembus level USD 118.093 atau setara dengan Rp 1,91 miliar (kurs Rp 16.200 per USD), sekaligus mengantarkan kapitalisasi pasar Bitcoin melampaui Google.
Saat ini, kapitalisasi pasar BTC mencapai USD 2,29 triliun, menjadikannya aset paling bernilai keenam di dunia. Tepat di bawah Amazon dan mendekati Apple dan Microsoft.
Namun bukan hanya soal harga yang bikin geger. Dikutip dari CoinDesk, Kamis (11/7), reli Bitcoin ini memicu gelombang besar likuidasi posisi short. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari USD 1,13 miliar (sekitar Rp 18,9 triliun) posisi derivatif dilikuidasi, dengan USD 1,01 miliar di antaranya berasal dari trader yang bertaruh bahwa harga Bitcoin akan turun.
Futures Bitcoin menyumbang USD 590 juta dari total likuidasi tersebut, diikuti oleh Ethereum (ETH) USD 241 juta. Likuidasi terbesar tercatat pada satu posisi short BTC/USDT senilai USD 88,5 juta di bursa HTX.
Bursa kripto seperti Bybit dan HTX menanggung beban paling besar. Di Bybit, total likuidasi mencapai USD 461 juta, 93 persen di antaranya adalah posisi short. Binance dan HTX menyusul masing-masing dengan USD 204 juta dan USD 193 juta.
Kondisi ini menandakan betapa agresifnya pasar bertaruh melawan tren bullish yang sedang terjadi. Dan ironisnya, makin banyak short dilikuidasi, makin kuat pula tekanan beli karena posisi dipaksa beli kembali (short squeeze), yang makin mendorong harga naik.
Yang menarik, reli besar ini tidak diikuti tekanan jual besar. Dalam laporan pagi Asia, CoinDesk menyebut bahwa arus Bitcoin yang masuk ke bursa kini hanya 18.000 BTC per hari, level terendah sejak April 2015. Bahkan, wallet besar yang biasanya mengirim BTC dalam jumlah 100 atau lebih ke bursa juga menurun drastis, dari 62.000 BTC per hari (November 2024) menjadi hanya 7.000 BTC saat ini.
CryptoQuant menyebut kondisi ini sebagai “musim HODLing”, di mana pemilik Bitcoin lebih memilih menyimpan daripada menjual, meski harga sedang tinggi. Ini memperkuat sinyal bahwa reli kali ini belum masuk fase distribusi seperti saat puncak pasar pada Maret dan Desember 2024.
Ethereum juga ikut terbang ke USD 3.016 atau sekitar Rp 50,7 juta, tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kenaikan ini didorong arus masuk ke ETF Ethereum, adopsi tokenisasi oleh perusahaan, serta tren Ethereum sebagai aset treasury korporasi.
Dengan total dana masuk ke ETF Bitcoin yang kini menyentuh USD 50 miliar, pasar kripto perlahan berubah dari narasi spekulatif menjadi portofolio institusional yang terstruktur. ETF spot seperti IBIT milik BlackRock kini mengelola lebih dari USD 76 miliar dalam waktu kurang dari setahun. Angka yang butuh 15 tahun bagi ETF emas untuk mencapainya.
Jika tren ini berlanjut dan Bitcoin mampu mempertahankan momentumnya, bukan tak mungkin dalam waktu dekat kapitalisasi BTC menyalip Amazon dan bergerak ke level psikologis berikutnya, Apple dan Microsoft.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
