
Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Harga Bitcoin sempat menyentuh Rp 1,39 miliar (sekitar USD 85.000) pada Selasa (15/4), memicu optimisme baru di kalangan investor. Namun, analis on-chain dari CryptoQuant memperingatkan bahwa kenaikan permintaan belum tentu menandakan awal dari tren bullish yang sesungguhnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan lewat Quicktake post, indikator Apparent Demand Bitcoin memang menunjukkan pemulihan. Namun, nilainya masih berada di zona negatif, yang berarti belum ada konfirmasi pembalikan tren secara menyeluruh.
Apparent Demand adalah metrik yang mengukur permintaan Bitcoin dengan membandingkan antara jumlah koin baru yang “diproduksi” melalui aktivitas mining (issuance) dan perubahan inventaris koin yang tidak aktif selama lebih dari satu tahun.
Jika jumlah koin yang keluar dari inventaris lebih besar dari yang diproduksi, maka nilai Apparent Demand akan positif—menandakan permintaan tinggi. Sebaliknya, jika nilainya negatif, berarti lebih banyak koin yang disimpan daripada digunakan, yang bisa mengindikasikan lemahnya minat pasar.
Dalam grafik yang dibagikan CryptoQuant, permintaan Bitcoin sempat melonjak pada akhir 2024. Namun, tren mulai melemah di awal 2025. Pada Maret, metrik ini jatuh ke wilayah negatif dan baru pada April ini menunjukkan sedikit pemulihan.
“Meski pergerakan naik ini patut dicatat, menyimpulkannya sebagai awal fase bullish bisa terlalu dini,” tulis analis CryptoQuant dalam laporan tersebut.
Analis juga mengingatkan bahwa pola serupa pernah terjadi pada siklus pasar 2021. Saat itu, permintaan Bitcoin memang pulih setelah sempat negatif, namun harga tetap tertahan dalam tren penurunan selama berbulan-bulan setelahnya.
Dengan kata lain, meskipun permintaan tampak bangkit, bukan berarti pasar sudah benar-benar berubah haluan ke arah bullish. Analis menyebut ini lebih mirip “jeda tekanan” daripada tanda awal akumulasi atau pembentukan titik dasar makro.
Saat artikel ini ditulis, Bitcoin masih stabil di kisaran USD 85.000 atau setara dengan Rp 1,39 miliar (kurs Rp 16.400 per USD). Kenaikan harga ini memang menunjukkan ketahanan setelah sebelumnya sempat turun hingga ke kisaran USD 74.000.
Namun, para pelaku pasar diingatkan untuk tidak buru-buru mengambil posisi besar, terutama jika belum ada konfirmasi kuat dari indikator permintaan on-chain maupun data teknikal lainnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
