
Ilustrasi OM milik Mantra. (Binance)
JawaPos.com – Dunia kripto kembali diguncang insiden besar. Token OM milik proyek Mantra anjlok hingga 90 persen dalam waktu kurang dari 24 jam, dari harga di atas USD 6 menjadi hanya USD 0,37 atau sekitar Rp 6.068 dengan kurs Rp 16.400 per USD.
Peristiwa ini menyapu bersih hampir Rp 82 triliun kapitalisasi pasar, memicu tudingan serius soal penjualan diam-diam oleh pihak internal.
Token yang sempat mencetak rekor harga USD 9 awal tahun ini, kini hanya dihargai sekitar USD 1,03 (Rp 16.892) pada Minggu malam waktu Amerika, atau Senin (14/4) WIB. Akibatnya, jagat media sosial langsung meledak. Banyak yang menyamakan insiden ini dengan kehancuran Terra Luna pada 2022.
Dikutip dari Bitcoin.com, Senin (14/4), sebagian besar tudingan diarahkan ke tim Mantra atau market maker yang diduga menjual sebagian besar token yang beredar lewat jalur over-the-counter (OTC).
Bahkan, beberapa pengguna mengaku tidak bisa lagi mengakses grup Telegram Mantra, menandakan kemungkinan disengaja untuk memutus komunikasi dengan investor.
Sementara itu, pihak Mantra melalui akun X resmi mereka membantah terlibat. “Insiden ini disebabkan oleh likuidasi yang sembrono oleh pihak luar, bukan kesalahan dari tim kami,” tulis pernyataan resmi mereka.
“Kami sedang menyelidiki lebih lanjut dan akan membagikan detailnya segera,'' imbuhnya.
Namun, banyak pihak menilai pernyataan itu tidak cukup. Penyelidik on-chain terkemuka, ZachXBT, merespons dengan tajam. “Apa maksudnya pernyataan seperti ini? OM turun 90 persen dari USD 5,9 miliar jadi hanya USD 500 juta dalam satu candle.”
“Istilah ‘likuidasi sembrono’ ini baru saya dengar,” sindir pengguna lainnya.
Investor pun mulai mendesak adanya langkah hukum. Sebagian bahkan terang-terangan menyebut insiden ini sebagai "penipuan". Jika tudingan benar, maka ini bisa menjadi salah satu kasus insider sell-off terbesar di ranah DeFi dalam beberapa tahun terakhir.
Mantra dikenal sebagai proyek yang fokus pada tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets atau RWA), dan sebelumnya menjalin kemitraan strategis dengan Google Cloud serta DAMAC Group dari Dubai. Proyek ini sempat dipandang menjanjikan dalam menjembatani aset tradisional ke dalam ekosistem blockchain.
Namun, insiden yang menimpa OM ini bisa menjadi titik balik krusial bagi masa depan Mantra. Dalam ekosistem tokenisasi yang masih mencari legitimasi, kepercayaan adalah segalanya. Dan kali ini, Mantra punya tugas berat untuk meyakinkan komunitas bahwa mereka tidak mengkhianati kepercayaan tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
