ilustrasi harga Bitcoin yang turun. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Di tengah gejolak harga Bitcoin yang belum juga pulih, CEO Cryptoquant Ki Young Ju memberikan sinyal peringatan bahwa siklus bull market Bitcoin telah berakhir.
Peringatan ini ia sampaikan pada akhir pekan lalu, dengan mengacu pada perbedaan mencolok antara realized cap dan market cap yang saat ini terjadi di pasar.
Dalam konteks kripto, realized cap adalah metrik on-chain yang mencerminkan rata-rata harga beli Bitcoin yang tersimpan di dompet para investor—sebuah indikator atas arus modal riil yang masuk ke jaringan.
Sementara market cap dihitung berdasarkan harga pasar terakhir dikalikan dengan total suplai, lebih mencerminkan nilai persepsi saat ini.
“Ketika realized cap naik tetapi market cap stagnan, itu berarti ada modal yang masuk tapi harga tidak ikut naik karena tekanan jual yang tinggi,” ujar Ki Young Ju, dikutip dari Bitcoin.com, Senin (7/4). Menurutnya, kondisi ini adalah sinyal pasar yang cenderung bearish.
Ia menambahkan, ketika pasar berada dalam kondisi normal, pembelian besar-besaran seperti yang dilakukan oleh perusahaan sekelas Strategy (MSTR) melalui obligasi konversi bisa mendorong harga naik.
Namun, saat tekanan jual mendominasi, pembelian besar sekalipun tidak cukup kuat untuk menggerakkan harga.
“Contohnya, saat Bitcoin berada di kisaran USD 100.000 atau setara Rp 1,64 miliar, volume perdagangan memang besar. Tapi harganya nyaris tak bergerak. Itu karena terlalu banyak yang menjual,” ungkapnya.
Meski demikian, Ki juga mengakui bahwa tidak semua aktivitas tercermin dari data onchain. Ada pula pihak yang berpendapat bahwa data ini bisa melewatkan aktivitas besar di luar bursa, seperti transaksi institusional. Namun ia membantah anggapan tersebut.
Menurutnya, sebagian besar arus modal besar—termasuk transaksi di bursa, pergerakan kustodian, hingga aktivitas ETF—dapat terlihat di blockchain.
Lebih jauh, Ju mengingatkan bahwa jika memang saat ini Bitcoin memasuki fase bear, maka kemungkinan besar pemulihan baru akan terjadi dalam enam bulan ke depan. Artinya, lonjakan harga dalam jangka pendek masih sulit terjadi, kecuali ada perubahan besar dari faktor eksternal.
Meski data menunjukkan sinyal waspada, sejarah Bitcoin juga dikenal penuh kejutan. Adopsi institusional yang semakin kuat, kejelasan regulasi dari pemerintahan Donald Trump, atau perubahan kondisi makroekonomi bisa menjadi pemicu baru yang mendorong harga naik kembali.
Jika itu terjadi, maka realigned antara realized cap dan market cap bisa terwujud, dan sentimen bullish kembali menggeliat.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
