
PADA POROSNYA: Mudid BKB PAUD Soga Indah girang melihat gasing bambu yang dia tarik talinya berputar pada Minggu (11/8) lalu. (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)
MURID-murid SDK Yohannes Gabriel Surabaya antusias melihat banyak mainan di halaman sekolah. Sedikitnya ada perlengkapan untuk tujuh permainan tradisional yang dibawa komunitas Kampoeng Dolanan hari itu. Di antaranya, ular tangga, gasing bambu, egrang, dan hulahop.
’’Kami ingin mengenalkan permainan tradisional supaya anak-anak bisa mengasah psikomotoriknya. Biar nggak sekadar main lari-larian. Kebetulan momennya 17-an jadi sekalian kami buat lomba,” ujar Kepala SDK Yohannes Gabriel Afrieyola Petymia pada Rabu (14/8).
Bagi Kampoeng Dolanan, inisiatif SDK Yohannes Gabriel itu menjadi pertanda bagus. Rutin berkeliling kampung, sekolah, dan tempat-tempat umum di Kota Pahlawan sejak 2016 untuk menggairahkan kembali permainan tradisional, Kampoeng Dolanan bersyukur campaign mereka berbuah baik.
’’Pulau Jawa sudah kami kelilingi semuanya. Jalur pantura sampai jalur selatan, Pulau Sumatera pernah, Bali, Lombok, sampai ke Singapura, Malaysia, Taiwan pernah,” ungkap founder Kampoeng Dolanan Mustofa Sam yang karib disapa Cak Mus.
Selama berkeliling, Cak Mus melihat anak-anak selalu penasaran dan tertarik pada mainan yang dibawanya. Menurut dia, anak-anak modern tidak bermain gasing, egrang, atau ular tangga bukan karena tak tertarik, melainkan karena belum kenal.
Sejauh ini, tantangan dalam melestarikan permainan tradisional justru datang dari para orang tua. Mereka sering melarang anaknya ikut bermain lantaran tak mau anaknya terjatuh dan terluka. ’’Padahal, dengan luka itu, anak belajar menjadi tangguh dan punya daya juang yang kuat,” ungkapnya.
Permainan tradisional bukan sekadar permainan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai hidup dan pendidikan karakter yang bagus untuk anak. Misalnya, pada mainan dakon atau congkak. Tak hanya mengajarkan berhitung, tetapi juga membiasakan anak memberi pada yang membutuhkan.
’’Karakter baik itu akan terpatri dalam diri anak jika sering dilakukan. Ketika sering main dakon, tangan kita akan terbiasa untuk memberi,” katanya.
Agar ada keberlanjutan, Kampoeng Dolanan memantik penggerak di tempat-tempat yang mereka datangi untuk tetap menggelar permainan tradisional bersama. (lai/c12/hep)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
