JawaPos Radar | Iklan Jitu

Mengenal Gangguan Irama Jantung yang Berisiko Picu Stroke Lebih Tinggi

23 September 2018, 09:43:11 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
gangguan irama jantung, stroke,
Ilsutrasi gangguan irama jantung bisa picu stroke lebih tinggi. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Gaya hidup tak sehat memicu berbagai penyakit degeneratif di usia lebih muda. Salah satunya stroke. Stroke atau penyakit kardiovaskular dan jantung saling terkait dengan sejumlah faktor risiko yang sama, yaitu diabetes, hipertensi, merokok, kolesterol, dan genetik. Tapi, masyarakat juga perlu mewaspadai terjadinya stroke jika mengalami gangguan irama jantung.

Gangguan irama jantung, FA (Fibrilasi Atrium) merupakan kelainan ketika detak jantung tidak regular, yang sering dijumpai di populasi dunia termasuk di Indonesia. Penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA.

Prevalensi FA meningkat di Asia, diperkirakan sekitar 72 juta orang menderita FA di tahun 2050. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Daniel Tanubudi, Sp.JP(K) menjelaskan di Indonesia akan terjadi peningkatan populasi usia lanjut yaitu dari 7,74 persen (tahun 2000) menjadi 28,68 persen di tahun 2050.

"Maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifkan. Hal ini terjadi karena prevalensi FA meningkat menurut usia dan FA lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita,” tambahnya.

Jumlah penderita stroke di Indonesia mengalami peningkatan. Data tahun 1990-an, jumlah penderita stroke adalah 2 per 1000 penduduk. Sedangkan pada Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 meningkat menjadi 8,3 per 1000 penduduk.

Dan pada RISKESDAS 2013 menunjukan peningkatan jumlah penderita stroke menjadi 12,1 per 1000 penduduk. Berdasarkan data Survey Kementerian Kesehatan 2014, 21,1 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke dan merupakan penyakit penyebab kematian nomor 1 di Indonesia.

Gangguan irama jantung (FA) menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA. Di Indonesia, 37 persen pasien FA dengan usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapati.

Terapi Obat Rivaroxaban pada Pasien FA

Hasil studi XANAP yaitu studi penelitian terapi obat oral Rivaroxaban untuk pencegahan stroke bagi pasien dengan gangguan irama jantung yang dipublikasikan di The Journal of Arrhythmia (publikasi resmi Perkumpulan Heart Rhythm Asia Pasifik dan Jepang) memberikan kabar baik bagi pasien FA di Indonesia.

Studi XANAP melibatkan 2.273 pasien di 10 negara Asia, termasuk 126 pasien dari Indonesia. Penelitian ini merupakan studi pertama dan terbesar di Asia yang meneliti penggunaan anti koagulan (pengencer darah) oral antagonis non vitamin K (NOAC) Rivaroxaban pada populasi pasien yang besar dengan gangguan ritme jantung non-valvular fibrilasi atrium.

Data menunjukkan rendahnya tingkat perdarahan (1,5 persen per tahun) dan rendahnya tingkat kejadian stroke (hanya 1,7 persen per tahun) pada pasien FA yang diterapi dengan Rivaroxaban. Studi ini juga mengkonfirmasi bahwa Rivaroxaban memiliki tingkat keamanan dan efikasi yang kuat pada pasien di Asia.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up