Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 September 2018 | 18.55 WIB

Jangan Terapi Alternatif Sembarangan, Ini 4 Pengobatan Stroke

Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Dr. Mohammad  Kurniawan, Sp.S(K) dalam diskusi paparan hasil studi XANAP bagi pasien dengan gangguan irama jantung di Indonesia. - Image

Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) dalam diskusi paparan hasil studi XANAP bagi pasien dengan gangguan irama jantung di Indonesia.

JawaPos.com - Berbagai pengobatan alternatif bagi pasien stroke saat ini kian menjamur. Dari mulai pengobatan menggunakan ramuan tradisional, terapi pijat, terapi kejut listrik, hingga terapi lintah dan lainnya. Tentu jika dikaitkan dengan dunia medis, terapi tersebut tidak direkomendasikan.


Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam memilih pengobatan alternatif. Bukannya sembuh, justru jika salah tahapan, stroke bisa lebih parah atau tidak efektif.


"Terapi itu kan bicara bukti ilmiah, ada bukti klinis atau enggak. Kita bicara dari sisi logika atau tidak. Kita bicara mekanisme penyebab stroke itu enggak ada hubungan sama skali dengan mekanisme stroke. Bisa dibilang terapi itu tak dianjurkan dan tolong bedakan antara testimoni dengan hasil uji klinis," tukasnya dalam diskusi paparab hasil studi XANAP terkait pasien stroke dan gangguan irama jantung baru-baru ini.


Dia menambahkan jika testimoni dijadikan pedoman, banyak orang mengaku sembuh. Namun perbandingannya kecil yaitu 1 dibanding ribuan orang.


"Orang dikasih air putih yang direndam sama batu berhasil sembuh saat diminum. Itu kan testimoni saja. Mungkin itu hanya kebetukan atau suatu saat serangan stroke bisa terjadi lagi," tukas dr. Kurniawan.


Dokter yang juga praktik di RS Kramat itu menjelaskan saat ini kedokteran masih menggunakan panduan dari Indonesia dan luar negeri atau internasional untuk mengobati stroke.


Rekanalisasi


Pertama, lakukan rekanalisasi. Buka sumbatan dengan obat yaitu dengan trombolitik atau masuk kateter trombektomi. Waktunya terbatas yaitu hanya 24 jam pertama saat pasien terserang stroke.


Pencegahan


Pencegahan atau jangan berulang. Jika pasien stroke punya hipertensi, diabetes, atau gangguan irama jantung, maka harus dicegah dengan rutin minum obat.


Rehabilitasi


Pasien stroke harus mengikuti fisioterapi. Paling bagus fisioterapi dilaksanakan saat 6 bulan pertama. Jika terbukti stroke dan mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada sisi tubuh, maka harus rajin fisioterapi.


Perubahan Gaya Hidup


Pola makan, pola tidur, dan olahraga harus dilakukan untuk mencegah stroke berulang atau meningkatkan kualitas hidup pasien stroke.


Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore