Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juli 2019 | 02.35 WIB

Kenali Penyakit Autoimun dan Cara Sederhana Mengontrolnya

Ilustrasi penyakit autoimun yang mengancam usia produktif. - Image

Ilustrasi penyakit autoimun yang mengancam usia produktif.

JawaPos.com - Tak semua orang paham dan tahu tentang penyakit autoimun khusunya perempuan. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa 75 persen dari mereka yang terkena gangguan tersebut adalah perempuan.

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh.

Dilansir dari Bussiness Standard, Minggu (28/7), penyakit semacam itu adalah akibat dari sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri, menyebabkan peradangan dan kondisi serius lainnya. Jenis-jenis penyakit autoimun adalah yang mempengaruhi satu organ atau jaringan seperti diabetes tipe 1 atau penyakit Crohn. Lalu penyakit sistemik yang mempengaruhi seluruh sistem seperti rheumatoid arthritis dan multiple sclerosis.

Beberapa gejala umum penyakit autoimun adalah nyeri pada persendian, kekakuan, kelelahan yang berlebihan, dan sakit kepala. Namun jika memiliki gejala ini bukan berarti bahwa Anda rentan terhadap penyakit autoimun. Penyakit-penyakit ini sulit didiagnosis pada tahap awal dan tes darah digunakan untuk mengonfirmasi. Karena itu, penting untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Bagi perempuan yang memiliki penyakit autoimun dan kemudian hamil, kehamilan dapat meredakan rheumatoid arthritis, namun memperburuk atau tidak memiliki efek pada jenis penyakit autoimun lainnya. Hormon juga memainkan peran penting dalam respons autoimun. Perubahan hormon selama kehamilan atau saat menopause dapat memicu perubahan autoimun.

Menurut beberapa ahli, penyakit autoimun paling umum yang mempengaruhi wanita selama kehamilan adalah penyakit rematik, penyakit tiroid, dan diabetes tipe1. Masalah tiroid biasanya dapat ditangani pada setiap trimester, asalkan dikenali dan dipantau dengan baik. Masalah juga dapat muncul selama masa nifas atau menyusui. Penting untuk dicatat bahwa perempuan yang menderita satu penyakit autoimun juga berisiko terkena jenis penyakit autoimun lainnya. Maka penting bagi perempuan yang didiagnosis dengan penyakit autoimun untuk memiliki sesi konseling.

Sementara itu, Firda Athira selaku pemerhati penyakit Autoimun mengatakan masyarakat Indonesia belum sadar dengan bahaya autoimun. Menurutnya, autoimun bukanlah suatu penyakit, oleh karenanya para penyintas autoimun tidak perlu merasa malu atau takut. Kendati demikian, ada sejumlah cara agar para penyintas autoimun dapat menjalani aktivitas dengan baik.

“Pola hidup yang bisa dilakukan bagi para penyintas dan kita semua adalah pola hidup yang sehat, olahraga serta pengendalian stres yang baik,” ujar Firda dalam talkshow dengan tema 'Autoimun Berbagi Bahagia' di Weekend Market.

Selain pola hidup sehat, dukungan dari linkungan juga diperlukan agar penyandang penyakit autoimun tetap berkarya di usia produktifnya.  Menurutnya, bagaimanapun ada keterbatasan yang dialami oleh para penyintas autoimun. Maka dari itu, pihaknya memberikan pelatihan kepada mereka.

“Jadi kami beri latihan dan modal wirausaha seperti membuat makanan, di mana makanan ini adalah makanan sehat. Sehingga aman dikonsumsi oleh siapa saja,” ungkapnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore