
Photo
JawaPos.com - Patuhilah protokol kesehatan jika tak mau terinfeksi Covid-19. Dari banyak pasien yang terpapar, memang 80 persen di antaranya merasakan gejala ringan atau tanpa gejala. Akan tetapi ada juga 5 persen lainnya yang masuk dalam kategori pasien kritis. Jika dalam kondisi kritis, maka penyakit yang belum ada obat dan vaksinnya itu semakin sulit disembuhkan.
Dalam diskusi webinar bertajuk Refleksi Infodemi di Masa Pandemi, Klinik Misinformasi, Rabu (26/8), Dokter Spesialis Paru dr. Jaka Pradipta Sp.P menjelaskan sampai saat ini belum ada obat spesifik untuk mendukung pengobatan pasiem Covid-19. Hanya ada obat yang bersifat supotif atau pendukung.
"Kalau kita sebut obat, artinya jadi sembuh, dan bersifat spesifik, itu belum ada. Saat ini yang ada adalah obat-obat pendukung. Lalu didukung dengan daya tahan tubuh, faktor nutrisi, olahraga dan juga istirahat," jelasnya.
Menurut dr. Jaka, penyakit ini bisa menyebabkan peradangan yang luar biasa pada pasien. Bukan hanya di paru saja, tapi semua organ tubuh bisa meradang.
"Obat-obat yang ada selama ini yang kami berikan adalah obat anti radang," katanya.
Harga obatnya pun mahal sekali ketika pasien sudah sampai dalam kondisi kritis. Khususnya bagi mereka yang sudah dirawat di ICU.
"Ada obat yang puluhan juta sampai ratusan juta untuk pasien di ICU. Obat anti radang. Dan itu bukan obat utama. Itu hanya kurangi radangnya saja. Selain itu obat-obatan ini semua masih on trial," tegasnya.
Menurut dr. Jaka, pasien Covid-19 terdiri dari 80 persen kategori kondisi ringan, 15 persen kondisi sedang, dan 5 persen kondisi buruk. Maka dia mengingatkan agar jangan sampai terkena Covid-19 karena pasien kategori ringan, bisa saja kondisinya memburuk.
"Tapi dari yang 80 persen itu tadi kondisinya bisa memburuk. Apa jadinya kalau semua pasien dirawat di RS, ya penuh. Jadi jika isolasi mandiri, yang penting istirahat, makan-makanan bergizi," ungkapnya.
"Bonusnya kami berikan antivirus dan antibiotik. Nah, antivirus yang kami berikan juga bukan antivirus Korona jenis baru. Tapi obat 'tetangganya' yakni antivirus influenza," katanya sambil tersenyum.
Maka dari itu penting untuk memantau kondisi pasien selama 14-20 hari apakah kondisinya stabil atau memburuk. Apakah mengalami demam atau radang.
"Maka saya memberikan tips agar selalu istirahat cukup, makan makanan bergizi yang tinggi vitamin dan zinc itu bisa didapat dari seafood, daging merah, bawang-bawangan, dan kacang-kacangan. Dan, olahraga," jelasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=H4dX-fuo0Mw

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
