Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Juli 2026 | 01.59 WIB

Dokter Kini Dapat Menilai Kekakuan Hati Tanpa Tindakan Invasif, Begini Manfaatnya bagi Deteksi Dini Hepatitis

Perkembangan teknologi ultrasonografi (USG) kini memungkinkan dokter menilai tingkat kekakuan atau liver stiffness tanpa prosedur invasif (Istimewa) - Image

Perkembangan teknologi ultrasonografi (USG) kini memungkinkan dokter menilai tingkat kekakuan atau liver stiffness tanpa prosedur invasif (Istimewa)

JawaPos.com – Perkembangan teknologi ultrasonografi (USG) kini memungkinkan dokter menilai tingkat kekakuan atau liver stiffness tanpa prosedur invasif. Kemampuan tersebut menjadi salah satu terobosan dalam mendeteksi fibrosis hati lebih dini, terutama pada pasien dengan hepatitis B dan hepatitis C, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kerusakan hati berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati.

Teknologi tersebut dimanfaatkan dalam kegiatan skrining hepatitis B dan C yang menjadi bagian dari rangkaian Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perkumpulan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) 2026 di Yogyakarta.

Perangkat ultrasonografi yang digunakan dilengkapi fitur Shear Wave Measurement (SWM) yang memungkinkan tenaga medis mengukur tingkat kekakuan jaringan hati secara kuantitatif. Pengukuran tersebut membantu dokter mengidentifikasi fibrosis hati akibat hepatitis B maupun hepatitis C tanpa perlu melakukan prosedur yang menimbulkan rasa sakit.

Selain mengukur kekakuan jaringan hati, sistem USG tersebut juga menghasilkan pencitraan berkualitas tinggi yang membantu visualisasi struktur hati secara lebih jelas. Kemampuan ini mendukung proses pemeriksaan yang lebih cepat, aman, dan efisien sekaligus memudahkan dokter memantau perkembangan kondisi pasien dengan penyakit hati.

Presiden Direktur FUJIFILM Indonesia Masato Yamamoto mengatakan, deteksi dini memegang peranan penting dalam meningkatkan peluang penanganan penyakit hati.

"Kami percaya bahwa setiap masyarakat berhak mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Melalui dukungan pada program skrining hepatitis B dan C dalam rangka Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah PPHI–PGI–PEGI 2026 ini, kami berharap dapat turut meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini sebagai langkah pencegahan, sekaligus membantu memperluas akses terhadap pemeriksaan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat," ujarnya, Rabu (29/7).

Dalam kesempatan tersebut, FUJIFILM Indonesia juga memperkenalkan solusi terintegrasi untuk penanganan penyakit hati, pankreas, dan bilier yang menggabungkan teknologi ultrasonografi, endoskopi, serta mobile C-arm. Ketiga teknologi tersebut dirancang untuk mendukung pelayanan pasien mulai dari skrining, diagnosis, tindakan intervensi, hingga evaluasi dan tindak lanjut.

Direktur FUJIFILM Indonesia Handra Effendi mengatakan, kebutuhan terhadap solusi kesehatan yang terintegrasi terus meningkat seiring berkembangnya layanan medis di Indonesia.

"Kami ingin menghadirkan solusi yang membantu tenaga medis bekerja lebih cepat, akurat, dan efisien. Melalui HPB Solution, kami berkomitmen mendukung penanganan penyakit hati secara lebih komprehensif sehingga fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan yang semakin optimal bagi masyarakat," kata Handra.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore