Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Juli 2026 | 21.04 WIB

Nanik Mundur dari Ketua BGN karena Masalah Jantung, Dokter: Stres Bisa Memperberat

Mantan Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang (tengah), Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, serta Mayjen TNI Trenggono. (Istimewa) - Image

Mantan Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang (tengah), Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, serta Mayjen TNI Trenggono. (Istimewa)

JawaPos.com - Pengunduran diri Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang karena akan menjalani pengobatan jantung di luar negeri menyoroti pengaruh stres terhadap pasien penyakit jantung. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Gagal Jantung dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP(K) mengatakan, stres dan kelelahan memang dapat memperberat kondisi pasien yang sudah memiliki penyakit jantung, meski bukan menjadi penyebab utamanya.

Menurut dr. Susetyo, seseorang yang telah didiagnosis menderita penyakit jantung koroner maupun gagal jantung memang lebih rentan mengalami kekambuhan gejala ketika menghadapi tekanan pekerjaan yang tinggi atau kelelahan.

"Betul, menurut saya terlepas dari saya pribadi tidak mengerti jenis penyakit jantungnya (Nanik), tapi seseorang yang sudah mengalami kondisi jantung, khususnya penyakit jantung koroner atau gagal jantung, memang sangat terpacu oleh high stress occupation atau pekerjaan dengan tingkat stres tinggi, dan juga fatigue atau kelelahan. Itu memicu atau memperberat, tetapi bukan sebagai sumber penyebab," ujarnya kepada wartawan, Kamis (23/7).

Ia menjelaskan, penyebab utama penyakit jantung umumnya merupakan gabungan dari berbagai faktor risiko. Namun, setelah seseorang mengalami penyakit jantung, stres maupun kelelahan dapat memicu munculnya keluhan yang lebih sering.

Pada pasien penyakit jantung koroner, misalnya, stres dapat membuat nyeri dada (chest pain) muncul lebih sering. Sementara pada pasien gagal jantung, kelelahan dapat memicu sesak napas menjadi lebih mudah terjadi.

"Kalau kita sudah mengenai penyakit jantung koroner, ketika kita stres atau lebih kecapekan, biasanya chest pain-nya akan lebih sering. Kalau gagal jantung, dia akan lebih mudah sesak kalau stres atau terutama kecapekan," jelasnya.

dr. Susetyo juga menerangkan bahwa saat seseorang mengalami stres, pembuluh darah akan mengalami penyempitan (vasokonstriksi) sebagai respons alami tubuh. Pada orang sehat, mekanisme tersebut membantu tubuh lebih sigap menghadapi situasi tertentu.

Namun, pada pasien yang telah memiliki penyempitan pembuluh darah akibat penyakit jantung koroner, kondisi tersebut justru dapat mempersempit aliran darah ke jantung sehingga memicu nyeri dada.

"Kalau penyakit jantung koroner biasanya dia terpacu banget oleh stres atau kelelahan. Tapi kalau gagal jantung umumnya karena kelelahan. Tapi sekali lagi saya tidak mengetahui beliau mengalami kondisi jantung apa, sehingga saya tidak bisa mengaitkannya secara spesifik," katanya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore