Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juni 2026 | 20.43 WIB

Bahaya Pubertas Dini pada Anak Perempuan, Menstruasi Terlalu Cepat Bisa Berdampak Jangka Panjang

Ilustrasi gambar dari Pinterest @carlos

JawaPos.com - Menstruasi merupakan bagian alami dari proses pubertas pada anak perempuan. Namun, ketika haid datang terlalu dini, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.

 
Belakangan, pembahasan mengenai pubertas dini menjadi sorotan setelah dibahas dalam podcast bersama dr. Ikhsan Qothi, Raditya Dika, dan Ali Akbar.
 
Topik tersebut kemudian kembali dijelaskan lebih rinci oleh dr. Ikhsan melalui akun TikTok pribadinya agar masyarakat lebih memahami risiko yang mungkin terjadi.
 
Dalam penjelasannya, dr. Ikhsan menegaskan bahwa menstruasi dini pada anak perempuan sering kali dianggap hal biasa oleh masyarakat karena menurut mereka sudah menstruasi berarti sudah dewasa.
 
Banyak orang tua menganggap kemunculan haid di usia sangat muda sebagai sesuatu yang normal tanpa mencari tahu penyebabnya.
 
Padahal, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi tanda pubertas dini yang memiliki berbagai konsekuensi terhadap kesehatan anak di masa depan.
 
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya kemungkinan mengalami menopause lebih dini saat dewasa.
 
Selain itu, pubertas yang terjadi terlalu cepat dapat menyebabkan lempeng pertumbuhan tulang menutup lebih awal sehingga tinggi badan anak saat dewasa berpotensi lebih pendek dibandingkan potensi genetiknya.
 
Tak hanya memengaruhi pertumbuhan, pubertas dini juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan metabolik seperti diabetes dan berbagai penyakit metabolisme lainnya.
 
Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan disebut dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker yang berkaitan dengan perubahan hormon.
 
Karena itu, evaluasi medis sangat penting apabila anak menunjukkan tanda-tanda pubertas lebih awal dari usia normal.
 
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah aspek psikososial. Anak yang mengalami menstruasi lebih cepat dibanding teman sebayanya sering kali belum siap secara emosional.
 
Mereka dapat merasa bingung, malu, cemas, bahkan mengalami tekanan karena perubahan fisik yang terjadi lebih cepat daripada perkembangan mentalnya.
 
Dukungan orang tua dan lingkungan menjadi faktor penting agar anak mampu menghadapi masa pubertas dengan baik.
 
Mengacu pada rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), usia normal dimulainya pubertas pada anak perempuan berada di rentang 8 hingga 13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki 9 hingga 14 tahun.
 
Jika tanda-tanda pubertas muncul sebelum rentang usia tersebut, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah kondisi tersebut masih dalam batas normal atau memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
 
Dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa pubertas dini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari genetik, status gizi, obesitas, paparan hormon tertentu, hingga faktor lingkungan.
 
Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan pola makan anak, menjaga berat badan tetap ideal, membatasi konsumsi makanan tinggi gula dan ultra-proses, serta memastikan anak menjalani gaya hidup aktif dan sehat.
 
Pada akhirnya, menstruasi dini bukanlah kondisi yang harus langsung ditakuti, tetapi juga tidak boleh diabaikan.
 
Semakin dini orang tua memahami tanda-tanda pubertas dan faktor risikonya, semakin besar peluang untuk memberikan penanganan yang tepat apabila ditemukan kelainan.
 
Edukasi yang benar serta pemeriksaan ke tenaga medis akan membantu anak menjalani masa pubertas dengan lebih sehat, aman, dan sesuai tahap perkembangannya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore