
Ilustrasi gigi. (Freepik)
JawaPos.com - Tren perawatan gigi instan yang dilakukan tanpa pengawasan dokter gigi kian marak di masyarakat. Mulai dari pemasangan behel sendiri, mengikir gigi agar terlihat lebih rata, hingga scaling mandiri menggunakan alat yang dibeli secara daring. Padahal, praktik-praktik tersebut dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan gigi dan mulut.
Dokter gigi spesialis prostodonsia, drg. Melissa Delania, mengingatkan bahwa berbagai tren tersebut umumnya muncul karena masyarakat mencari jalan pintas untuk memperbaiki penampilan gigi atau menghindari kunjungan ke dokter gigi.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan kesehatan gigi karena rasa takut. Padahal, ketakutan tersebut justru dapat mendorong seseorang mengambil langkah yang berisiko. Masyarakat pun dimintanya untuk ‘berani tampil’ yang sesuai dengan kampanye yang disuarakan oleh Satu Dental.
“Faktanya, 86,4 persen masyarakat di Indonesia belum pernah ke dokter gigi. Dan 30 persennya itu karena takut. Takut sakit, takut biayanya, takut bayarnya juga,” ujar Melissa dalam sesi edukasi #BeraniTampil oleh Satu Dental Jakarta, dikutip Jumat (5/6).
Ia menilai rasa takut tersebut seringkali muncul karena minimnya pemahaman mengenai perawatan gigi modern yang kini semakin nyaman bagi pasien.
Adapun Melissa menyoroti maraknya penjualan behel yang dapat dipasang sendiri melalui platform e-commerce. Bahkan, tidak sedikit produk yang disertai tutorial pemasangan sehingga menarik minat masyarakat yang ingin merapikan gigi dengan biaya lebih murah. Menurutnya, tindakan tersebut sangat berbahaya karena pergerakan gigi seharusnya dilakukan berdasarkan perencanaan dan pengawasan dokter gigi.
“Sekarang ini di e-commerce ada yang jual behel yang bisa dipasang sendiri, ada tutorialnya juga. Ini bahaya banget. Pergerakan gigi yang tidak terarah dan tidak terukur bisa sampai menyebabkan akar giginya keluar,” tegasnya.
Selain behel mandiri, Melissa juga menyoroti tren mengikir gigi untuk mendapatkan bentuk yang dianggap lebih rapi atau estetis. Praktik ini banyak dilakukan tanpa memahami dampaknya terhadap struktur gigi.
“Terus ada juga tren kikis gigi, pakai seperti kikiran kuku supaya giginya terlihat rata. Padahal lapisan gigi yang sudah hilang itu tidak akan bisa balik lagi, tidak bisa dikembalikan lagi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa enamel atau lapisan terluar gigi yang terkikis secara berlebihan tidak dapat tumbuh kembali. Akibatnya, gigi menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami kerusakan di kemudian hari.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
