
Kegiatan edukatif bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” yang diselenggarakan AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Kamis (22/11). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan virus yang menjadi penyebab utama infeksi saluran pernapasan pada bayi dan anak-anak, terutama bayi prematur dengan sistem kekebalan dan fungsi paru yang belum matang. Hal ini membuat mereka lebih rentan mengalami bronkiolitis, pneumonia, hingga gangguan napas berat yang sering membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Meski begitu, banyak orang tua yang masih belum begitu memahami bahayanya virus ini. Edukasi pencegahan dini ditekankan sebagai langkah penting untuk memastikan tumbuh kembang bayi tetap optimal dan terhindar dari komplikasi jangka panjang.
Indonesia mencatat lebih dari 675.000 kelahiran prematur setiap tahunnya, menempatkan negara ini sebagai salah satu dengan angka tertinggi di dunia. Bayi yang lahir sebelum 37 minggu kehamilan umumnya belum memiliki sistem kekebalan yang kuat.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi, dr. Rinawati Rohsiswatmo, menjelaskan bahwa bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi terkena RSV lantaran paru-parunya belum berkembang sempurna.
Selain itu, bayi prematur juga belum sempat menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya secara optimal selama masa kehamilan. Alhasil, sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi.
Hal ini diungkapkan dr. Rina pada kegiatan edukatif bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” yang diselenggarakan AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Kamis (22/11).
“Dibandingkan bayi cukup bulan, mereka memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi RSV pada tahun pertama kehidupannya. Infeksi ini seringkali berkembang dengan cepat dan dapat memerlukan perawatan yang lebih lama serta intensif,” katanya.
Orang tua dipandang sebagai garda terdepan dalam melindungi bayi prematur dari paparan infeksi. Satu langkah pencegahan berarti satu kesempatan kehidupan yang lebih baik.
Selain imunisasi pasif dengan pemberian antibodi monoklonal seperti Palivizumab, orang tua juga harus melakukan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah bayi prematur terpapar RSV.
“Upaya tersebut di antaranya dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit, memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik, serta membatasi aktivitas di tempat ramai,” tambah dr. Rina.
Adapun RSV merupakan penyebab utama infeksi saluran napas bawah, berkontribusi hingga 60-80 persen kasus bronkiolitis serta 30 persen pneumonia pada bayi dan balita di seluruh dunia. Pada awalnya, gejala RSV sering tampak mirip flu biasa, mulai dari pilek hingga batuk ringan, sehingga kerap diabaikan.
Padahal, infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi berat, termasuk sesak napas, serta menimbulkan risiko jangka panjang seperti asma, mengi berulang, hingga penurunan fungsi paru. Membedakan RSV dari infeksi lain menjadi hal penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Bahkan, sebuah studi mengungkapkan bahwa 1 dari 10 bayi di Indonesia meninggal akibat infeksi saluran napas bawah yang disebabkan RSV.
Mengacu pada NFID, common cold biasanya hanya menimbulkan keluhan ringan tanpa demam tinggi. Flu hadir secara mendadak dengan demam dan nyeri tubuh, sedangkan Covid-19 dapat melibatkan gejala pernapasan lebih berat hingga hilangnya penciuman.
Berbeda dari semuanya, RSV lebih banyak menyerang bayi dan anak kecil dengan gejala seperti batuk, demam ringan, mengi, serta kesulitan bernapas. Pada bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur, kondisi dapat cepat memburuk menjadi gangguan pernapasan serius.
Dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Anak, dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira, menegaskan bahwa RSV seringkali belum menjadi perhatian utama bagi orang tua, padahal virus ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan pernapasan anak.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
