Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 September 2025 | 16.48 WIB

Ingin Coba Pasang Aromaterapi? Kenali Fakta dan Risikonya Terlebih Dahulu

Aromaterapi dan air humidifier (dok. freepik) - Image

Aromaterapi dan air humidifier (dok. freepik)

JawaPos.com - Aromaterapi, atau yang juga dikenal sebagai terapi minyak esensial, merupakan praktik pemanfaatan minyak atsiri dari tumbuhan untuk mendukung kesehatan maupun meningkatkan kesejahteraan tubuh dan pikiran. Meski telah digunakan selama ribuan tahun, penelitian ilmiah mengenai efektivitas aromaterapi masih terbatas.

Asosiasi Nasional Aromaterapi Holistik (National Association for Holistic Aromatherapy/NAHA) mendefinisikan aromaterapi sebagai pemakaian ekstrak alami tumbuhan, seperti minyak esensial, untuk menyelaraskan tubuh, pikiran, dan jiwa, sehingga kembali pada kondisi seimbang.

Banyak orang meyakini aromaterapi dapat menjadi pelengkap pengobatan medis tradisional, misalnya untuk membantu mengurangi nyeri, mual, stres, hingga depresi. Namun, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup kuat untuk memastikan manfaatnya bagi kesehatan manusia.

Dikutip melalui Medical News Today, aromaterapi dilakukan melalui dua cara utama, yakni inhalasi dan aplikasi topikal.

Inhalasi adalah proses ketika minyak esensial dihirup menggunakan diffuser, semprotan, atau tetesan minyak yang dilarutkan dalam air panas. Aroma yang terhirup memengaruhi sistem penciuman, lalu diteruskan ke otak, terutama ke sistem limbik yang berhubungan dengan emosi, detak jantung, tekanan darah, serta ingatan.

Sedangkan aplikasi topikal adalah ketika minyak esensial dioleskan ke kulit, misalnya melalui pijatan atau produk perawatan tubuh. Pijat pada area tertentu dapat meningkatkan sirkulasi darah sekaligus membantu penyerapan minyak ke dalam tubuh.

Pendukung aromaterapi percaya minyak esensial bermanfaat untuk berbagai kondisi, seperti nyeri tubuh, mual, sakit kepala, insomnia, dan sebagainya. Meski demikian, penelitian ilmiah yang mendukung klaim-klaim ini masih terbatas.

Risiko Pemakaian

Meski terlihat alami, minyak esensial tetap memiliki potensi risiko, di antaranya:

  • Reaksi alergi seperti dermatitis,
  • Gangguan pencernaan bila tertelan,
  • Iritasi saluran pernapasan,
  • Luka bakar kimia bila terkena mata,
  • Meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari (khusus minyak citrus).

Penting untuk diingat, minyak esensial tidak boleh dipakai langsung ke kulit tanpa dicampur minyak pembawa (carrier oil). Mengkonsumsinya secara oral juga sangat berisiko karena bisa merusak hati atau ginjal serta berinteraksi dengan obat-obatan tertentu.

Siapa yang Sebaiknya Menghindari Aromaterapi?

Aromaterapi tidak disarankan bagi semua orang. Mereka dengan kondisi berikut perlu berhati-hati:

  • Penderita epilepsi,
  • Pengidap asma atau penyakit paru obstruktif kronis (COPD),
  • Penderita tekanan darah tinggi,
  • Orang dengan kulit sensitif,
  • Penderita tumor yang dipengaruhi hormon estrogen.

Selain itu, keamanan penggunaan aromaterapi pada ibu hamil dan menyusui belum terbukti, sehingga sebaiknya dihindari.

Aromaterapi adalah metode alternatif yang memanfaatkan minyak esensial untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental. Meski bisa memberikan rasa rileks dan dipercaya membantu mengurangi beberapa gejala kesehatan, bukti ilmiah mengenai efektivitasnya masih terbatas.

Penggunaan minyak esensial harus hati-hati karena berpotensi menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, aromaterapi tidak boleh dijadikan pengobatan utama, melainkan hanya sebagai pelengkap, dengan tetap memperhatikan saran medis dan memilih produk yang aman serta berkualitas. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore