Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 18.53 WIB

Mengenal Gas Air Mata: Zat Kimia Berbahaya dan Cara Menangani Paparannya Jika Terkena

Petugas kepolisian membuat barikade pertahaan untuk membubarkan masa aksi demo 25 Agustus di kawasan Pejompongan, Jakarta, Senin (25/8/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Petugas kepolisian membuat barikade pertahaan untuk membubarkan masa aksi demo 25 Agustus di kawasan Pejompongan, Jakarta, Senin (25/8/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Gas air mata selama ini dikenal sebagai salah satu alat pengendali massa yang umum digunakan oleh aparat keamanan. Dalam berbagai situasi seperti demonstrasi yang mulai tak terkendali atau kerusuhan yang dianggap membahayakan ketertiban umum, gas air mata seringkali menjadi pilihan untuk membubarkan kerumunan dengan cepat tanpa kontak fisik langsung.

Meski dianggap efektif secara taktis, penggunaan gas air mata masih menimbulkan perdebatan. Banyak pihak menyoroti potensi bahayanya terhadap kesehatan, terutama bila paparan terjadi dalam jumlah besar atau dalam waktu yang lama. Efeknya bisa beragam, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan pernapasan serius yang mengancam jiwa.

Secara kimiawi, gas air mata memang dirancang untuk menciptakan rasa tidak nyaman pada tubuh manusia, terutama di area mata, hidung, mulut, dan saluran pernapasan. Paparan zat ini bisa menyebabkan penglihatan kabur, mata berair, hingga kesulitan bernapas dan sensasi terbakar di kulit.

Dikutip dari Halodoc, gas air mata umumnya mengandung senyawa kimia seperti chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA), dan dibenzoxazepine (CR). Masing-masing senyawa ini memiliki efek yang berbeda-beda, tetapi semuanya bertujuan untuk mengganggu sistem saraf sensorik agar korban menjauh dari lokasi paparan.

Dampaknya terhadap tubuh bisa sangat nyata. Menurut U.S. Centers for Disease Control and Prevention yang dikutip dari HelloSehat, gas air mata memang tidak dirancang untuk mematikan. Namun, sifat racun dalam bahan kimianya bisa menimbulkan gangguan jangka pendek bahkan kerusakan lebih serius, tergantung dari intensitas paparan.

Pada mata, misalnya, zat ini bisa menyebabkan mata memerah, berair secara berlebihan, dan penurunan kemampuan melihat secara sementara. Jika terhirup lewat hidung dan saluran napas, akan muncul gejala seperti hidung berair, perasaan panas, dan pembengkakan.

Di paru-paru, korban bisa merasa sesak, tersedak, napas pendek, hingga pola napas menjadi tidak beraturan. Jika masuk lewat mulut, rasa panas seperti terbakar akan terasa di rongga mulut, disertai kesulitan menelan dan produksi air liur berlebihan. Bahkan pada kulit pun bisa menimbulkan iritasi dan rasa terbakar bila tidak segera dibersihkan.

Efek dari paparan ini bisa mereda dalam waktu 15 hingga 20 menit, terutama jika seseorang segera menjauh dari lokasi pelepasan gas. Namun, durasi dan intensitas gejalanya sangat tergantung pada seberapa dekat seseorang dengan sumber pelepasan dan berapa lama ia terpapar.

Karena itulah, beberapa institusi dan negara memiliki protokol ketat terkait penggunaan gas air mata. Di antaranya adalah larangan menembakkan gas dalam jarak dekat, hanya boleh digunakan di ruang terbuka, serta pembatasan komposisi bahan kimia dalam dosis minimal.

Lalu bagaimana jika seseorang terpapar gas air mata? Tindakan awal yang harus dilakukan adalah menjauh sejauh mungkin dari pusat penyebaran gas. Menutup wajah dengan kain basah bisa membantu menyaring udara yang dihirup. Mencari lokasi terbuka dengan sirkulasi udara segar menjadi hal penting agar tubuh dapat kembali menghirup oksigen bersih.

Setelah itu, bagian tubuh yang terkena harus segera dibilas dengan air bersih yang mengalir. Menghindari penggunaan tisu basah sangat dianjurkan, karena kandungan alkohol atau zat lainnya bisa memperparah iritasi. Pakaian yang terkena gas juga harus segera diganti dan sebaiknya tidak dicampur dengan cucian lain agar tidak menularkan residu bahan kimia. Jika memungkinkan, segera mandi dengan sabun antiseptik untuk membersihkan seluruh tubuh secara menyeluruh.

Gas air mata mungkin dirancang untuk efek sementara, namun dampaknya bisa berkepanjangan jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kandungan zat kimianya dan cara penanganan setelah terpapar menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah rawan aksi massa atau demonstrasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore