
Ilustrasi mendaki gunung. (Dok. blog eiger)
JawaPos.com - Belakangan ini, hiking dan trekking semakin populer sebagai pilihan aktivitas luar ruang.
Banyak orang tertarik karena bisa menikmati keindahan alam, merasakan kepuasan saat mencapai puncak, sekaligus menghabiskan waktu bersama teman, pasangan, atau keluarga.
Namun, rencana mendaki tidak cukup hanya dengan semangat. Persiapan fisik, logistik, dan perlengkapan penunjang juga penting diperhatikan. Satu hal yang sering diabaikan adalah kesadaran akan dampak ketinggian terhadap tubuh.
Menurut akun Instagram @banner_health, seseorang berisiko mengalami penyakit ketinggian atau altitude sickness ketika berada di dataran tinggi.
Apa Itu Penyakit Ketinggian atau Altitude Sickness?
Altitude sickness merupakan keadaan saat tubuh kesulitan beradaptasi dengan rendahnya oksigen saat berada di atas ketinggian.
Penyakit ketinggian ini patut diwaspadai karena dapat terjadi pada siapa pun, tidak terbatas pada pria, wanita, tua, muda, bugar atau tidak bugar, pengalaman atau tidak.
Selain saat mendaki gunung, penyakit ketinggian juga bisa muncul dalam kondisi lain, misalnya ketika berada di pesawat yang terbang di atas 8.000 kaki.
Gejala yang dialami tiap orang bisa berbeda, dan sering kali dapat mereda dengan sendirinya.
Namun, dalam kasus tertentu, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah serius seperti High-Altitude Cerebral Edema (HACE) atau High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE).
HACE merupakan kondisi berbahaya akibat pembengkakan otak, sedangkan HAPE terjadi ketika cairan menumpuk di paru-paru. Keduanya tergolong darurat medis yang mengancam jiwa. (*)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
