
Prof. Iswanto Sucandy usai pengukuhan dirinya sebagai Adjunct Professor Fakultas kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (24/7/2025). (Juliana Christy/Jawa Pos)
JawaPos.com – Kanker kolorektal kini menjadi salah satu penyakit yang paling sering ditemukan di Indonesia. Bahkan, kasus pada usia muda semakin meningkat tajam.
Fakta mengejutkan, pasien kanker usus besar dan rektum di Indonesia banyak yang tidak dioperasi, padahal secara medis masih sangat mungkin dilakukan.
“Saya pernah menangani pasien kanker kolon usia 21 tahun. Di FK Unair bahkan ada yang baru 14 tahun. Ini masalah serius dan semakin relevan untuk Indonesia,” ujar Prof. Iswanto Sucandy, MD, FACS saat mengisi orasi ilmiah dalam rangka pengukuhan dirinya sebagai Adjunct Professor di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya, Kamis (24/7).
Iswanto, yang saat ini menjabat sebagai ahli bedah hepatobilier dan robotik di Advent Health Tampa, University of Central Florida, menjelaskan bahwa di luar negeri—terutama di Amerika—pendekatan terhadap kanker kolorektal jauh lebih agresif, bahkan untuk kasus stadium lanjut sekalipun.
“Di Amerika, pasien kanker kolon dengan metastasis ke liver tetap dioperasi jika memungkinkan. Harapan hidup mereka bisa 10 tahun lebih. Di Indonesia, banyak yang tidak dioperasi karena dokter masih ragu atau belum yakin,” ungkapnya.
Menurut dia, masalah ini berakar pada kurangnya kepercayaan diri dan kompetensi teknis, serta keterbatasan fasilitas medis seperti teknologi robotic surgery yang belum merata di Indonesia.
“Agar bisa agresif menangani kanker, dokter harus punya skill dan sistem yang mendukung. Operasi harus aman, komplikasi rendah. Inilah yang ingin saya bantu dorong di Indonesia,” tegas Iswanto.
Iswanto juga menambahkan bahwa stadium kanker seharusnya bukan jadi alasan untuk menyerah, apalagi jika masih ada peluang bedah.
“Bahkan stadium 4 pun bisa dioperasi, tergantung lokasi dan jumlah tumor. Kadang perlu dua tahap operasi. Tapi dokter harus bisa menentukan strateginya dengan percaya diri,” jelasnya.
Melalui pengukuhannya sebagai Adjunct Professor di FK Unair, Iswanto berharap bisa mendorong lebih banyak kerja sama riset, pelatihan, dan peningkatan standar penanganan kanker di Indonesia. Baik melalui pendekatan konvensional maupun teknologi bedah robotik.
“Tujuan akhirnya jelas, meningkatkan harapan hidup pasien Indonesia. Jangan sampai karena ragu atau kurang fasilitas, pasien kehilangan kesempatan hidupnya,” tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Dekan I FK Unair Achmad Chusnu Romdhoni menegaskan bahwa kanker kolorektal kini masuk tiga besar kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia.
Menurut dia, tren usia pasien yang makin muda harus menjadi peringatan dini bagi semua pihak, terutama dalam hal skrining dan deteksi dini.
“Usia di bawah 55 tahun makin banyak yang terdiagnosis. Ini harus menjadi alarm bersama. Peran media dan edukasi publik sangat penting agar masyarakat sadar pentingnya deteksi dini,” jelas Chusnu.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
