Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Juli 2025 | 18.36 WIB

Update Ilmu Kardiovaskular Jadi Kunci: Tenaga Medis Soroti Inovasi Terkini Penanganan Penyakit Jantung

Ilustrasi: Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit paling membunuh di dunia. (Today

JawaPos.com - Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sebelum pandemi Covid-19 yang menyelimuti hampir banyak negara beberapa waktu lalu, penyakit jantung merupakan salah satu penyakit pembunuh nomor satu di dunia dan di Indonesia. 

Dalam data yang dikeluarkan oleh WHO terakhir pada tahun 2021, kematian akibat penyakit jantung mencapai angka 17,8 juta kematian atau satu dari tiga kematian di dunia setiap tahun disebabkan oleh penyakit jantung.

Kemenkes juga memiliki data sendiri. Data dari Kemenkes pada tahun 2023 di Indonesia angka kematian akibat penyakit kardiovaskular mencapai 650. 000 penduduk per tahun.

Dokter sebagai salah satu garda terdepan memerlukan pemahaman mengenai kondisi jantung pasien mereka, dan harus mempunyai pengetahuan mengenai monitoring jantung agar tepat dalam melakukan tindakan ataupun perawatan pasien. 

Oleh karena kemajuan ilmu kedokteran menuntut para tenaga medis untuk terus memperbarui pengetahuan serta keterampilan mereka. 

Menjawab kebutuhan tersebut, sejumlah dokter spesialis dari berbagai wilayah Tanah Air berkumpul dalam seminar medis bertajuk “Advanced Cardiovascular Innovations in Modern Cardiology Update” yang digelar Sabtu, 19 Juli 2025 di Jakarta.

Acara ilmiah ini digagas oleh Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari komitmen untuk mendorong pengembangan ilmu kardiovaskular di Indonesia. 

Seminar ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga ajang edukasi penting bagi dokter, terutama dalam menghadapi tantangan diagnosis dan terapi penyakit jantung yang semakin kompleks.

Mengapa Update Ilmu Kardiologi Itu Penting?
Dalam era kedokteran modern, pendekatan penanganan penyakit jantung terus berkembang seiring dengan munculnya teknologi intervensi terbaru dan pemahaman klinis yang lebih dalam. Dokter dan tenaga medis dituntut untuk selalu up to date agar dapat memberikan penanganan berbasis bukti yang paling tepat bagi pasien.

"Penyakit jantung tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan konvensional saja. Inovasi dalam bidang kardiologi berkembang cepat, dari teknik intervensi non-operatif hingga manajemen kasus dengan komplikasi sistemik seperti diabetes dan gangguan ginjal," ujar Dr. dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, salah satu pembicara dalam seminar tersebut.

Acara tersebut juga menghadirkan sejumlah pakar kardiologi terkemuka. Dr. Linda Lison membahas inovasi dalam penanganan kelainan struktural jantung tanpa operasi, sementara Dr. Birry Karim mengulas perkembangan teknik intervensi koroner perkutaan, pendekatan minimal invasif yang menjadi andalan dalam menangani penyumbatan pembuluh darah jantung.

Topik lain yang menjadi sorotan adalah tantangan diagnostik pada pasien dengan penyakit arteri perifer (PAD) dan diabetes mellitus, serta bedah jantung kompleks yang kini semakin aman dilakukan berkat kolaborasi multidisiplin dan kemajuan alat medis.

Di tengah kompleksitas penanganan penyakit jantung, kerja sama antar fasilitas kesehatan menjadi sangat penting. Seminar ini juga menjadi ajang bagi RS Medistra untuk membangun jejaring klinis nasional, terutama dalam memperluas layanan rujukan kasus jantung dari berbagai daerah.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore