
Ilustrasi, depresi dan anxiety yang termasuk dalam jenis disabilitas. (Freepik/ freepik)
JawaPos.com - Dunia kerja modern dengan segala dinamika dan tuntutannya dapat menjadi sumber stres bagi siapa pun. Namun, penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih rentan mengalami depresi di lingkungan kerja dibandingkan laki-laki.
Fenomena ini menarik perhatian para ahli psikologi dan kesehatan mental. Para ahli psikologi dan kesehatan mental mendorong upaya untuk memahami faktor-faktor yang mendasarinya dan mencari solusi yang efektif.
Berikut beberapa faktor yang berkontribusi pada kerentanan perempuan terhadap depresi di lingkungan kerja:
1. Beban Ganda dan Peran Tradisional
Perempuan seringkali memikul beban ganda, yaitu tanggung jawab profesional di tempat kerja dan tanggung jawab domestik di rumah. Peran tradisional sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak masih melekat kuat pada sebagian masyarakat, menambah tekanan bagi perempuan yang juga berkarir.
Tuntutan untuk menyeimbangkan kedua peran ini dapat menimbulkan stres berkepanjangan dan meningkatkan risiko depresi. Tekanan ini dapat berupa ekspektasi sosial, pembagian kerja yang tidak setara di rumah, atau kurangnya dukungan dari pasangan dan keluarga.
Beban ganda ini dapat memicu konflik peran, kelelahan emosional, dan perasaan bersalah karena merasa tidak mampu memenuhi semua tuntutan. Akibatnya, kesehatan mental perempuan menjadi taruhannya.
2. Diskriminasi dan Ketidaksetaraan Gender
Di banyak tempat kerja, perempuan masih menghadapi diskriminasi dan ketidaksetaraan gender. Hal ini dapat berupa perbedaan gaji untuk pekerjaan yang sama, kurangnya kesempatan promosi, pelecehan seksual, atau komentar-komentar seksis. Pengalaman-pengalaman negatif ini dapat merusak kepercayaan diri, memicu stres, dan meningkatkan risiko depresi. Lingkungan kerja yang tidak inklusif dan tidak menghargai keberagaman juga dapat memperburuk kondisi ini.
Diskriminasi dan ketidaksetaraan gender menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan tidak adil bagi perempuan. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental individu, tetapi juga pada kinerja dan produktivitas secara keseluruhan.
3. Tekanan untuk Memenuhi Standar Ganda
Perempuan seringkali menghadapi standar ganda di tempat kerja. Mereka dituntut untuk bekerja sekeras laki-laki, tetapi juga diharapkan untuk tetap feminin dan menyenangkan.
Tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang bertentangan ini dapat menimbulkan stres dan kebingungan. Perempuan mungkin merasa harus menyembunyikan emosi atau karakteristik tertentu agar diterima di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.
Tekanan ini dapat menyebabkan perempuan merasa tidak autentik dan tidak dihargai di tempat kerja. Hal ini juga dapat memicu perasaan cemas, rendah diri, dan depresi.
4. Perubahan Hormonal

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
