Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Desember 2024 | 22.13 WIB

Ancaman Pandemi Besar Bernama Antibiotik

ILUSTRASI: AI (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI: AI (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS)

Resistansi antimikroba atau resistansi antibiotik menyebabkan berkurangnya kepekaan patogen atau mikroba terhadap antibiotik.

Mikroba sebagai makhluk hidup, tambah Soroy, akan melakukan adaptasi dengan mutasi. Dia mengistilahkan mikroba yang sering diberi antibiotik sembarangan layaknya petinju yang sering dilatih.

Mikroba tentu tidak ingin spesiesnya mati karena itu bermutasi. Akhirnya, ’’si petinju” pun jadi kuat (baca: resistan terhadap antibiotik).

Kasus resistansi pertama tercatat pada 1940-an, yang ironisnya ditemukan oleh penemu penisilin Alexander Fleming. ’’Bakteri yang tadinya mati oleh penisilin, ada yang tak mati dan menimbulkan infeksi. Bakteri ini lalu bermutasi sebagai bentuk adaptasi,” ujar Hari.

Mikroba makin resistan hingga di satu titik berkembang menjadi superbac. Alias bakteri yang super resistan hampir dengan seluruh jenis antibiotik.

Hari menambahkan, resistansi antibiotik juga diperkirakan bisa menciptakan grand pandemic atau pandemi besar yang skalanya jauh lebih besar ketimbang Covid-19. Karena itu, pada 2024, Bank Dunia bahkan mencanangkan program stop the grand pandemic.

Indonesia juga telah melakukan deteksi bakteri resistan sejak 2000 lewat riset Antimicrobial Resistance in Indonesia (Amrin). Penelitian yang dilaksanakan di RSUD dr Soetomo Surabaya dan RSUP dr Kariadi Semarang itu membuktikan, bakteri resistan menimbulkan masalah.

’’Covid, angka kematiannya hanya 2,6 juta orang per tahun. Sementara, ada sekitar 10 juta kematian akibat bakteri resistan, baik yang berupa infeksi primer maupun infeksi yang dipicu karena ’menumpang’ penyakit metabolik seperti stroke dan diabetes,” katanya.

Sebenarnya, untuk menentukan suatu penyakit dipicu bakteri, perlu ada pemeriksaan laboratorium mikrobiologi. ’’Nanah, darah, urine bisa diambil sampelnya, dibiakkan, lalu dicari tahu, ini infeksi karena apa? Bakterinya resistan atau tidak?” papar Hari.

Tanpa pengecekan tersebut, pemberian antibiotik bisa tidak tepat sasaran. Misal, bakteri A diberi antibiotik yang tidak tepat. ”Akhirnya enggak manjur. Malah terjadi cross resistance, di mana bakteri ini resistan dengan banyak jenis antibiotik,” imbuhnya.

Beragam Aksi

Indonesia sebenarnya sudah punya Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 7 Tahun 2921 tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistansi Antimikroba 2020–2024 sebagai payung hukum. Kepedulian terhadap antibiotik, kata Soroy, juga telah lama muncul.

”Sayangnya, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tidak dilakukan secara konsisten,” imbuhnya.

Lewat riset Amrin, terang Hari, Kemenkes mencanangkan program pengendalian resistansi antimikroba pada 2015 yang masih aktif hingga saat ini. Melalui program tersebut, pemerintah melaksanakan global action plan WHO yang di antaranya juga meliputi pengawasan penggunaan antibiotik di peternakan, pertanian, dan perkebunan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore