
Ilustrasi gorengan. Gorengan biasanya menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Food & Wine Magazine
JawaPos.com - Makanan ultra proses atau Ultra Processed Food (UPF) adalah makanan yang banyak beredar di pasaran. Tidak sedikit pula diminati para konsumen. Peredaran makanan UPF memicu kontra versi.
Nah, apa itu UPF? Menurut guru besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Purwiyatno Hariyadi, ultra processed food adalah bagian dari makanan yang sudah diproses serta ditambah dengan zat aditif. Contohnya pewarna buatan, gula, garam, perisa buatan, lemak, dan lainnya.
Selain diproses untuk menjadikannya lebih lezat, terdapat beberapa manfaat lain dari makanan UPF. Beberapa di antaranya adalah makanan bisa lebih awet dan tahan lama, praktis, dan enak untuk dikonsumsi.
UPF juga dapat diperkaya dengan micronutrients dan asam amino yang dapat dikonsumsi tubuh dengan mudah. Proses ini juga lazim dikenal dengan proses fortifikasi.
Beberapa makanan memerlukan fortifikasi dengan penambahan banyak vitamin dan mineral penting untuk mengatasi kekurangan nutrisi, seperti kekurangan zat besi, kalsium, dan vitamin D.
Beberapa makanan yang diproses fortifikasi dengan penambahan vitamin dan mineral dibutuhkan untuk menggantikan kebutuhan nutrisi yang hilang selama proses pengolahan, seperti zat besi, kalsium, dan vitamin D.
Purwiyatno Hariyadi menilai, pengelompokkan makanan sebenarnya tidak semata-mata berdasarkan pada pengolahannya, khususnya untuk ultra processed food. Bahkan tidak semua UPF disebut makanan tidak sehat.
"Jadi, kecuali kita memetik apel langsung dari pohonnya atau meminum susu langsung dari sapi. Jadi sebagian besar makanan yang kita makan diproses secara teknis," ujar Purwiyatno.
Dia mengingatkan, sebaiknya tidak menyamaratakan semua teknik pemrosesan makanan sehat menjadi “sampah”. Hanya karena sesuatu telah melalui proses, bukan berarti tidak sehat untuk dimakan.
Di tempat lain, sejumlah ahli gizi mengingatkan bahwa tidak semua pemrosesan makanan UPF buruk. Misal, pengolahan susu menjadi yogurt atau gandum yang diolah menjadi roti merupakan contoh pemrosesan makanan sederhana yang tetap memiliki kandungan gizi.
Ardiba Rakhmi Sefrienda, peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTPP BRIN) mengatakan, pada UPF ada kemungkinan zat gizi yang terkandung dalam pangan akan hilang atau rusak pada saat proses pembuatan atau pengolahan.
“Untuk itu perlu fortifikasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas gizi makanan pada total asupan konsumsi pada kelompok, komunitas, atau populasi tertentu," papar Ardiba seperti dikutip dari laman BRIN.
Menurut dia, ada banyak bahan pangan yang dapat difortifikasi. Terutama bahan-bahan pangan utama seperti garam, susu, beras, margarin, dan mi instan. Fortifikasi tidak mengubah warna maupun rasa pada produk. Oleh karena itu, dapat membantu perbaikan gizi ke masyarakat.
Ardiba menyebut, bubur bayi (MPASI komersial) juga diperkaya (fortifikasi) dengan zat besi dan mikronutrien lainnya. Semua itu tentu sesuai standar WHO dan BPOM. Di samping itu, MPASI komersial juga menawarkan kepraktisan dan memiliki kandungan gizi lengkap dan seimbang.
Berdasarkan Global Nutrition Report (GNR) tahun 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban ganda malnutrisi. Untuk memperbaiki masalah gizi itu, pemerintah melakukan fortifikasi pada sejumlah pangan di Indonesia.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
