Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Januari 2023 | 16.15 WIB

Kebal Antibiotik Jadi Ancaman Pandemi Diam-diam Setelah Covid-19

Ilustrasi antibiotik. Seseorang biasanya dianjurkan minum antibiotik hingga habis. - Image

Ilustrasi antibiotik. Seseorang biasanya dianjurkan minum antibiotik hingga habis.

JawaPos.com - Resistensi antibiotik atau kebal terhadap antibiotik sempat menjadi pelajaran berharga saat terjadi di India ketika tahun 2022 lalu. Kejadian di India menjadi pelajaran untuk siapapun agar bijak dalam mengonsumsi antibiotik. India mengalami pandemi bakteri super karena kebal atau resisten terhadap antibiotik. Kondisi ini dikhawatirkan menjadi pandemi senyap atau silent pandemic setelah Covid-19.

Obat antibiotik tak mampu atau tak manjur lagi dalam melawan penyakit dari bakteri super tersebut. Ribuan orang masuk rumah sakit hingga dirawat di ICU dan memerlukan bantuan ventilator saat itu di India.

Dalam AAHCI Southeast Asia Regional Meeting 2023, Vice President for Research Mahidol University, Thailand,.Prof. Pattarachai Kiratisin, MD, Ph.D, mengungkapkan bahwa organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) menempatkan resistensi antimikroba ke dalam 10 besar ancaman kesehatan global. Penyalahgunaan dan penggunasalahan (obat yang tepat namun tidak sesuai dosis dan ketentuan) antimikroba menjadi penyebab utama terjadinya resistensi.

Ia mengingatkan bahwa isu yang berada di bawah radar sangat mungkin menjadi ancaman yang amat menakutkan. Sebagai daerah beriklim tropis, Asia Tenggara menjadi area yang paling pas bagi penularan sejumlah infeksi bakteri. Penanganan infeksi yang tidak tepat sasaran sangat berpotensi memicu resistensi dan penularan yang lebih luas.

"Agar para ahli untuk tidak tinggal diam menyaksikan fenomena ini. Kita harus segera bergerak memikirkan solusi terbaik yang bisa kita ambil dalam menanggulangi ancaman berbahaya ini,” kata Prof. Pattarachai dalam pidatonya baru-baru ini.

Sesi gelar wicara pada kegiatan ilmiah yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut mengusung tema Infectious Disease Threats in the 21st Century: Preparedness and Response. Associate Professor of Infectious Disease dari The University of Arkansas for Medical Science (UAMS), Amerika Serikat, Kristine Patterson, MD, mengungkapkan fakta bahwa 2/3 dari populasi Amerika Serikat menetap di negara bagian dengan cakupan pelayanan penyakit infeksi yang kurang memadai.

Hal tersebut ditunjang oleh data yang menunjukkan terjadinya penurunan jumlah trainee dan angka ketertarikan dokter mendalami bidang penyakit infeksius yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Situasi ini tentunya cukup representatif untuk menggambarkan kondisi penanganan penyakit menular di negara maju. Sejumlah pakar infeksi mengingatkan tentang resistensi antimikroba yang mengancam dan besar kemungkinan untuk menjadi pandemi berikutnya setelah Covid-19.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore