Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Mei 2021 | 22.50 WIB

Pakai Alat Bantu Dengar, Beatrix Purba Unjuk Prestasi di Asia Pasifik

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Memiliki keterbatasan pendengaran bukan halangan untuk mengukir prestasi. Hal itu dibuktikan oleh Beatrix Purba, gadis cilik berusia 7 tahun 11 bulan yang mewakili Indonesia di ajang Cochlear Got Talent tingkat Asia Pasifik.

Beatrix sendiri memiliki gangguan pendengaran berat sejak usia 1 tahun. Namun karena semangatnya dan berkat alat bantu pendengaran yang ditanam di bawah kulit kepala (cochlear implant), ia sukses menunjukkan bakatnya bermain piano.

Beatrix Purba sebelumnya menjuarai tingkat Asia Tenggara dan tingkat nasional. Ajang ini diakukan sampai dengan 13 Mei 2021 dengan melawan juara-juara dari negara Asia Pasifik seperti Korea Selatan, India, dan Malaysia dan lain-lain. Ajang online ini adalah acara pertama dan terbesar untuk anak-anak pengguna cochlear implant.

"Agar anak-anak seperti Beatrix bisa meraih impian dan cita-cita mereka," kata Managing Director Kasoem Hearing Center, Trista Mutia Kasoem secara daring kepada wartawan baru-baru ini.

Tentu itu dilakukan dengan memberikan support agar mereka bisa seperti anak-anak normal lainnya. Apa yang dilakukan Beatrix menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia dengan gangguan dengar bisa bebas mendengar, bebas berbicara dan bisa meraih mimpi mereka.

Di video lomba itu, Beatrix Purba terlihat sangat piawai memainkan piano dan bernyanyi, yang seharusnya untuk anak dengan gangguan dengar akan sulit untuk dilakukan. Alhasil, pada lomba CGT itu, Beatrix berhasil menjadi juara tingkat pertama dan kedua hingga saat ini babak final di tingkat Asia Pasifik.

"Ini menjadi bukti bahwa solusi gangguan pendengaran seperti cochlear implant berperan penting untuk perkembangan bicara anak dengan gangguan dengar," jelas Trista.

Ibunda Beatrix, Anggy Rajagukguk yang notabene seorang dokter mengaku kaget karena video Beatrix viral di sosial media.

"Anak saya dari lahir didiagnosa gangguan dengar berat," ujar Anggy.

Beatrix sendiri baru diketahui mengalami gangguan pendengaran berat yang saat berusia 1 tahun. Untuk bisa tetap beraktivitas normal, ia menggunakan alat bantu dengar dan melakukan operasi cochlear implant atau rumah siput di usia 1 tahun 10 bulan.

Mulai dari terapi bicara, mapping, hingga pengorbanan ibunya yang seorang dokter harus berhenti bekerja agar buah hatinya bisa berbicara dan mendengar seperti anak normal pada umumnya.
Namun, siapa sangka, dengan keterbatasan tersebut, semangat Beatrix untuk berprestasi tetap tak terbendung. Saat ini, Beatrix sudah mewakili Indonesia pada ajang perlombaan di tingkat internasional.

"Jujur sangat kaget sekaligus bangga, karena saya tidak menyangka Beatrix bisa ikut lomba fase ke 3 yang mewakili Indonesia di perlombaan Cochlear Got Talent (CGT) se-Asia Pasific," kata sang ibu.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore