Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 November 2020 | 04.49 WIB

Salah Menggunakan Antibiotik Bikin Kuman Jadi Kebal

ILUSTRASI DIPERAGAKAN CHICCA ERVIKA - FOTO: HANUNG HAMBARA/JAWA POS - Image

ILUSTRASI DIPERAGAKAN CHICCA ERVIKA - FOTO: HANUNG HAMBARA/JAWA POS

JawaPos.com–Dokter konsultan penyakit tropik dan infeksi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Adityo Susilo mengajak masyarakat menggunakan antibiotik dengan bijak. Sebab jika penggunaan yang salah dan tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan resistensi.

”Antibiotik berfungsi untuk membunuh kuman serta bekerja secara spesifik dan bukan merupakan obat demam. Jika penggunaan antibiotik tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan munculnya kuman yang kebal terhadap antibiotik,” kata Adityo Susilo seperti dilansir dari Antara dalam seminar awam bicara sehat ke-32 dengan tajuk utama Mari Gunakan Antibiotik dengan Bijak.

Menurut dia, mekanisme kerja antibiotik adalah dengan menghancurkan dinding sel. Antibiotik diperuntukkan untuk membunuh bakteri bukan virus. ”Pada penyakit akibat virus, secara logika tidak membutuhkan antibiotik,” terang Adityo Susilo.

Beberapa dokter ada yang menggunakan antivirus dalam mengobati penyakit akibat virus. Namun, tidak semua virus membutuhkan antivirus. Sebab, beberapa virus ada yang bersifat self-limiting yang berarti penyakit tersebut dapat sembuh sendiri tanpa obat dengan sistem imun tubuh yang kuat.

Terdapat alasan mengapa antibiotik perlu dihabiskan. hal itu karena membutuhkan beberapa waktu tertentu untuk memastikan bakteri benar-benar telah mati. Biasanya waktu tunggu sekitar 5–7 hari atau dapat juga mengikuti petunjuk dokter. Sebab beberapa antibiotik dapat berbeda.

”Jika tidak dihabiskan karena merasa kondisi tubuh sudah baik, khawatir bakteri tersebut belum benar-benar mati dan dapat menyebabkan infeksi kembali,” kata Adityo Susilo.

Dia menjelaskan, infeksi merupakan suatu kondisi masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh. Infeksi dapat menyebabkan demam, namun demam bukan pasti selalu karena infeksi. ”Saat demam, umumnya kita mengalami rasa tidak nyaman karena metabolisme tubuh sedang berjalan tidak normal. Demam adalah tanda adanya peradangan atau terjadinya perubahan pada pengaturan termoregulasi,” terang Adityo Susilo.

Sementara itu, dokter spesialis mikrobiologi klinik RSUI Ardiana Kusumaningrum menyampaikan, antibiotik hanya dapat diresepkan jika terdapat kecurigaan penyakit infeksi bakteri yang telah dilakukan pemeriksaan fisik, anamnesis, atau pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan penunjang) sebelumnya.

Beberapa contoh penggunaan antibiotik yang salah di antaranya menyimpan antibiotik untuk sakit yang akan datang, menghentikan obat ketika merasa lebih baik (tidak menuntaskan), berbagi obat atau menggunakan obat orang lain, tidak tepat jenis, dosis, cara pakai, dan lama terapi.

”Kesalahan penggunaan antibiotik dapat menyebabkan beberapa permasalahan. Seperti kurang efektifnya antibiotik saat digunakan, dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, dan bakteri tersebut dapat menyebar ke orang lain serta lingkungan sekitar,” kata Ardiana Kusumaningrum.

Dia menambahkan, terdapat beberapa konsekuensi dari resistensi antibiotik, yaitu sakit yang lebih berat dan lebih lama, toksisitas meningkat, kematian meningkat, dan biaya yang lebih mahal.

”Beberapa tips mencegah terjadinya resistensi, yaitu gunakan antibiotik hanya pada kondisi infeksi bakteri yang sebelumnya telah dikonsultasikan ke dokter, gunakan sesuai resep, jangan memaksa meminta antibiotik, serta rajin mencuci tangan,” tutur Ardiana Kusumaningrum.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=bbECprka9e0

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore