Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Januari 2020 | 17.44 WIB

Waspadai Penyakit Pascabanjir

Warga beraktivitas ketika banjir di kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Rabu (1/1/2020). Banjir yang terjadi di kawasan tersebut akibat luapan air dari Kali Sunter.  Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Warga beraktivitas ketika banjir di kawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Rabu (1/1/2020). Banjir yang terjadi di kawasan tersebut akibat luapan air dari Kali Sunter. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono meminta masyarakat mewaspadai penyakit yang sering muncul saat banjir. Penyakit tersebut, antara lain, leptospirosis, diare, kolera, tifus, dan penyakit kulit.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri lepstospira yang ditularkan melalui air seni hewan. Bakteri tersebut biasanya masuk ke tubuh lewat kulit, luka terbuka, maupun mata melalui air kotor. Gejalanya, sakit kepala, demam tinggi, nyeri otot, perdarahan (biasanya di paru-paru), menggigil, mata memerah, dan disertai muntah.

Lingkungan yang tidak langsung dibersihkan pascabanjir dan kontaminasi bakteri yang terbawa air pada bahan makanan maupun minuman dapat menyebabkan diare. Gejala penyakit tersebut bervariasi. Sakit perut singkat dengan buang air besar (BAB) tidak terlalu encer. Juga, kram perut hebat disertai intensitas BAB cukup sering yang berlendir dan darah. ”Kalau rumah yang kebanjiran, ya harus segera dibersihkan dengan air bersih,” jelas Anung kepada Jawa Pos kemarin.

Banjir juga bisa mengakibatkan air sumur tercemar. Kalau memungkinkan, lanjut dia, lebih baik menggunakan air PDAM untuk konsumsi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika air PDAM tidak ada, harus digunakan sumber air bersih seadanya, tetapi dengan ditaburkan bubuk kaporit untuk mematikan kuman. ”Artinya, masyarakat harus memastikan sumber air bersihnya,” kata pria asal Temanggung itu.

Selain itu, ada penyakit kolera. Penyakit yang disebabkan minuman dan makanan yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae yang terbawa air banjir. Gejalanya mirip diare. Namun, pada kolera disertai muntah-muntah. Selain itu, penyakit pencernaan lainnya seperti tifus mengancam saat situasi banjir. Yakni, infeksi usus halus. Seseorang yang terkena penyakit tersebut biasanya mengalami sakit kepala, mual, demam, diare, dan hilangnya nafsu makan.

Kurangnya menjaga kebersihan juga mengakibatkan penyakit kulit. Biasanya mengalami gatal-gatal. Penyebabnya adalah bakteri E. coli yang dibawa air banjir. Biasanya seseorang yang terinfeksi timbul bercak merah pada kulit yang terasa sangat gatal. Jika tidak segera ditangani, bercak merah tersebut bisa melebar ke bagian kulit lainnya.

”Secara umum kami mengimbau masyarakat agar tetap berperilaku hidup sehat. Kalau mengalami keluhan pascabanjir, segera berobat ke pelayanan kesehatan,” ucap mantan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes itu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore