
Ilustrasi
JawaPos.com - Memperkenalkan balita pada jenis-jenis makanan yang baru memang susah-susah gampang. Spesialis anak RSUD dr Soetomo dr Meta Hanindita SpA mengatakan, pilih-pilih makanan itu adalah salah satu keluhan yang paling banyak dikeluhkan orangtua, terutama saat anaknya usia 1-3 tahun. Kebiasaan pilih-pilih makanan ini disebut dengan food preference dan skalanya pun luas. Mulai picky eater sampai selective eater.
Untuk picky eater, Meta mengatakan anak masih mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun yang belum dikenalnya tapi menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup. Walaupun pilih-pilih makanan, picky eater masih mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur/buah, dan susu.
Misalnya, walaupun anak menolak makan nasi, tapi ia masih mau makan roti atau mi. ’’Sedangkan selective eater adalah anak yang menolak segala jenis makanan dalam kelompok makanan tertentu. Misalnya sama sekali enggan mengonsumsi karbohidrat, baik itu nasi, roti atau mi,’’ ungkap dokter yang baru meluncurkan buku terbarunya, Mommyclopedia tersebut.
Nah, bagaimana menghadapi si kecil yang pilih-pilih makanan? Meta punya beberapa tips. Pertama, kebiasaan makan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak. Jika orangtua enggan makan sayur misalnya, wajar saja jika anak pun meniru enggan makan sayur. Selalu sajikan menu makanan yang berimbang setiap harinya. ’’Children see, children do. Mereka akan meniru orang tua,’’ ujar Meta.
Kedua, sebaiknya sajikan makanan dalam porsi kecil, ketiga biasanya jika anak disuruh memakan sesuatu, mereka akan langsung menolak. Sebaliknya, jika anak yang memegang kendali , mereka cenderung lebih tertarik.
Sebaiknya sajikan makanan di meja yang terjangkau. Keempat, bila ingin memberikan makanan baru, jangan langsung menyerah jika anak langsung menolak. Paparkan makanan baru tadi pada anak sebanyak 10-15 kali.
Kelima, berikan contoh makan yang menyenangkan. Jika anak melihat orang lain makan makanan serupa, anak akan lebih tertarik mencoba. ’’Terakhir, orangtua harus tetap tenang. Jangan panik atau marah-marah saat anak menolak makanan tertentu,’’ imbuhnya.
Bagaimana untuk jajan diluar rumah? Meta mengatakan, di atas usia setahun, sebetulnya makanan keluarga dapat diberikan untuk anak. Makanan keluarga artinya makanan apapun yang dimakan oleh ayah, ibu dan keluarga lainnya pun dapat dimakan oleh anak.
Walaupun begitu, anak membutuhkan nutrisi seimbang. Terkadang, jajanan yang dijual bebas tidak mengandung nutrisi yang seimbang. Misalnya banyak lemak, tapi tidak ada proteinnya. Atau mengandung banyak karbohidrat, tapi tidak ada yang lainnya. Itulah yang harus dipertimbangkan orangtua sebelum memilih jajanan. (ina/tia)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
