Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Maret 2017 | 01.26 WIB

Kiat Mengatasi Anak yang Suka Pilih-pilih Makanan

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Memperkenalkan balita pada jenis-jenis makanan yang baru memang susah-susah gampang. Spesialis anak RSUD dr Soetomo dr Meta Hanindita SpA mengatakan, pilih-pilih makanan itu adalah salah satu keluhan yang paling banyak dikeluhkan orangtua, terutama saat anaknya usia 1-3 tahun. Kebiasaan pilih-pilih makanan ini disebut dengan food preference dan skalanya pun luas. Mulai picky eater sampai selective eater.



Untuk picky eater, Meta mengatakan anak masih mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun yang belum dikenalnya tapi menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup. Walaupun pilih-pilih makanan, picky eater masih mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur/buah, dan susu.



Misalnya, walaupun anak menolak makan nasi, tapi ia masih mau makan roti atau mi. ’’Sedangkan selective eater adalah anak yang menolak segala jenis makanan dalam kelompok makanan tertentu. Misalnya sama sekali enggan mengonsumsi karbohidrat, baik itu nasi, roti atau mi,’’ ungkap dokter yang baru meluncurkan buku terbarunya, Mommyclopedia tersebut.



Nah, bagaimana menghadapi si kecil yang pilih-pilih makanan? Meta punya beberapa tips. Pertama, kebiasaan makan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak. Jika orangtua enggan makan sayur misalnya, wajar saja jika anak pun meniru enggan makan sayur. Selalu sajikan menu makanan yang berimbang setiap harinya. ’’Children see, children do. Mereka akan meniru orang tua,’’ ujar Meta.



Kedua, sebaiknya sajikan makanan dalam porsi kecil, ketiga biasanya jika anak disuruh memakan sesuatu, mereka akan langsung menolak. Sebaliknya, jika anak yang memegang kendali , mereka cenderung lebih tertarik.



Sebaiknya sajikan makanan di meja yang terjangkau. Keempat, bila ingin memberikan makanan baru, jangan langsung menyerah jika anak langsung menolak. Paparkan makanan baru tadi pada anak sebanyak 10-15 kali.



Kelima, berikan contoh makan yang menyenangkan. Jika anak melihat orang lain makan makanan serupa, anak akan lebih tertarik mencoba. ’’Terakhir, orangtua harus tetap tenang. Jangan panik atau marah-marah saat anak menolak makanan tertentu,’’ imbuhnya.



Bagaimana untuk jajan diluar rumah? Meta mengatakan, di atas usia setahun, sebetulnya makanan keluarga dapat diberikan untuk anak. Makanan keluarga artinya makanan apapun yang dimakan oleh ayah, ibu dan keluarga lainnya pun dapat dimakan oleh anak.



Walaupun begitu, anak membutuhkan nutrisi seimbang. Terkadang, jajanan yang dijual bebas tidak mengandung nutrisi yang seimbang. Misalnya banyak lemak, tapi tidak ada proteinnya. Atau mengandung banyak karbohidrat, tapi tidak ada yang lainnya. Itulah yang harus dipertimbangkan orangtua sebelum memilih jajanan. (ina/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore