alexametrics

Jangan Abai, Sistem Pencernaan Ternyata Pengaruhi Mood dan Mental

17 April 2020, 09:01:49 WIB

JawaPos.com – Saat tegang, stres dan demam panggung, biasanya bisa menimbulkan rasa tak enak pada perut. Ternyata memang ada konektivitas antara dampak suasana mental, otak, dan dengan sistem pencernaan.

Sistem komunikasi atau koneksi antara sistem pencernaan dengan otak disebut gut-brain axis. Kedua organ ini terhubung baik secara fisik maupun biokimia dengan beberapa cara berbeda.

Usus manusia mengandung 10 hingga 100 triliun mikrobiota, atau hampir 10 kali lebih besar dari jumlah total sel dalam tubuh manusia. Mikrobiota usus memainkan peran penting dalam komunikasi dua arah antara usus dan sistem saraf pusat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikrobiota usus dapat memengaruhi fungsi otak melalui jalur neuroimun dan neuroendokrin serta sistem saraf. Sehingga perubahan jumlah dan koloni mikrobiota usus dapat memengaruhi mental atau suasana hati.

“Mikrobiota usus akan menghasilkan ratusan neurokimia yang digunakan otak untuk mengatur proses fisiologis dasar serta proses mental seperti proses belajar, memori, dan suasana hati,” ungkap Peneliti dari FibreFirst, Nourmatania Istiftiani kepada JawaPos.com, Kamis (16/4).

Oleh sebab itu, mikrobiota usus dapat menjadi pengatur utama dalam suasana hati, rasa sakit, dan juga fungsi kognitif. Mikrobiota usus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, cara persalinan, diet atau pola makan, penggunaan antibiotik, serta konsumsi probiotik dan prebiotik.

Dua jenis microbiota usus, yaitu Coprococcus dan Dialister, tidak ditemukan pada individu yang mengalami depresi, tetapi tetap ditemukan pada individu dengan kualitas hidup yang baik. Beberapa orang yang mengalami masalah di sistem pencernaan lebih berisiko mengalami
gangguan mental.

Bukti lain yang menunjukkan hubungan antara sistem pencernaan dan suasana hati adalah lebih dari 90 persen serotonin tubuh diproduksi di sistem pencernaan. Serotonin adalah neurotransmiter atau bahan kimia yang menyampaikan informasi dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya. Berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk mengatur emosi dan perasaan bahagia.

Selain jumlah dan koloni mikrobiota usus, kadar Short Chain Fatty Acid (SCFA) atau asam lemak rantai pendek, juga dapat memengaruhi perasaan depresi. Kandungan SCFA pada feses individu dengan depresi lebih rendah dibandingkan dengan individu tanpa gangguan mental.

Kurang Serat Bisa Ganggu Mood

Konsumsi serat, khususnya yang memiliki sifat prebiotik, seperti Inulin atau galaktosakarida, juga dapat menurunkan kadar kortisol atau hormon stres dalam tubuh.  Ahli Gizi dr. Hilna Khairunisa Shalihat M.Gizi, Sp.GK menjelaskan apa yang dikonsumsi akan menentukan seberapa baik imunitas tubuh kita. Karena 70 persen sel imun terdapat di sistem pencernaan, jadi kesehatan sistem pencernaan juga sangat berhubungan dengan imunitas tubuh.

“Selain itu, dengan mengonsumsi serat dari buah-buahan dan sayuran, tidak hanya suasana hati yang membaik namun juga imunitas tubuh pun jadi kuat sehingga tidak mudah tertular penyakit baik dari bakteri ataupun virus”, jelas Tania.

Sayangnya 95,4 persen masyarakat Indonesia kurang konsumsi buah dan sayuran, sehingga berisiko kekurangan serat dan beragam nutrisi yang diperlukan tubuh. Jadi jangan lupa untuk memperhatikan kesehatan sistem pencernaan, agar suasana hati meningkat, terhindar dari kecemasan berlebihan, dan depresi, serta agar imun tubuh jadi kuat.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini: