
TIDAK PANIK: Maria Elisea Kimora mengukur suhu tubuh sang anak, Pia Mikayla Alesha, di rumahnya Jumat (24/4). Suhu tubuh anaknya yang di atas 37,5 derajat Celsius dapat dinyatakan demam. Maria mengompresnya untuk menurunkan demam sambil terus memantau kon
Bagi sebagian orang, hepatitis A mungkin terdengar asing. Padahal, ia dekat dan berbahaya. Pencegahannya pun sebenarnya sederhana. Cukup menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan makanan.
---
Hepatitis A merupakan peradangan hepar atau hati yang disebabkan virus hepatitis A. Penyakit tersebut bersumber dari kebiasaan tidak bersih. Hepatitis A menular secara fecal-oral. Artinya, virus itu menyebar lewat air atau makanan yang tercemar virus tersebut. ”Misalnya, bahan makanan tercemar atau proses masak kurang higienis. Atau, tidak mencuci tangan sebelum makan,” ungkap dr Lucia P. Retnaningtyas SpA.
Dokter spesialis anak di RS Katolik St Vincentius A Paulo Surabaya itu memaparkan, infeksi tersebut biasanya menyerang komunitas. Misalnya, di sekolah, pondok pesantren, asrama, atau kantor. Hepatitis A pun tidak bisa ditebak. Sebab, spektrumnya luas. Ada yang tanpa gejala (asimtomatik), bergejala, hingga muncul komplikasi.
Menurut Lucia, gejala biasanya muncul rata-rata empat minggu setelah terinfeksi virus hepatitis A. Keluhan umumnya, mual, muntah, serta perut terasa begah (selengkapnya lihat grafis). ”Gejala ini tidak bisa diatasi dengan obat nyeri lambung. Soalnya, yang terinfeksi liver,” tegasnya.
Pada anak-anak, hampir 70 persen infeksi hepatitis A berlangsung asimtomatik. ”Justru dewasa yang memiliki gejala lebih berat. Ada potensi relapse atau kambuh,” kata Lucia. Yang paling mengkhawatirkan, timbul gagal fungsi liver dan komplikasi. Terutama pada orang dewasa dengan gangguan hati serta lansia. ”Risikonya, pasien bisa meninggal atau terpaksa transplantasi hati,” jelasnya.
Hingga kini, belum ada terapi spesifik untuk mengatasinya. Dokter sebatas memberikan hepatoprotector atau obat pelindung liver. Karena itu, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya tersebut menegaskan bahwa tidak ada cara selain mencegah. Langkah preventifnya sebenarnya mudah dilakukan.
”Secara logis, virus hanya bisa dihindari dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta penyiapan makanan dan minuman yang higienis,” paparnya. Prinsip kebersihan tersebut perlu diterapkan konsisten dan sejak dini. Bukan hanya saat terpapar sakit.
Lucia juga menyarankan anak-anak mendapatkan vaksin hepatitis A. Agar lebih optimal, vaksin bisa diberikan mulai anak berusia 2–18 tahun. ”Imunisasi adalah investasi yang baik. Diharapkan, kekebalan tubuh terbentuk dan saat dewasa nggak sampai kena,” tuturnya.
Merujuk rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin hepatitis A diberikan dua kali dengan jarak 6–12 bulan.
---
GEJALA-GEJALA HEPATITIS A

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
