
Ilustrasi. Stres pada perempuan sudah menurun dengan memiliki teman baru.
JawaPos.com - Ternyata bukan hanya kesehatan fisik yang harus diperhatikan. Tetapi seseorang juga penting memperhatikan kesehatan jiwa atau mentalnya agar kehidupan bisa berjalan dengan keseimbangan.
Bicara soal kesehatan mental, setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tahun ini, tema yang diambil menekankan semua orang harus berpikir lebih visioner di masa depan. Iakni 'meningkatkan investasi kesehatan mental'.
Psikiater dr.Lahargo Kembaren,SpKJ yang juga Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor mengatakan, seseorang dikatakan dalam keadaan sehat jiwanya saat dia bisa memberikan potensi terbaiknya, dapat beradaptasi dengan kehidupan, mampu berperan dalam setiap aspek kehidupan di sekolah/kuliah, tempat kerja, keluarga dan komunitas. Kesehatan jiwa adalah urusan semua orang.
Menurutnya, gangguan jiwa bisa mengenai siapa saja tanpa memandang latar belakang dan status ekonomi serta pendidikannya. Gangguan jiwa terjadi melalui suatu proses yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Bisa cepat atau lebih lambat.
Yang perlu dipahami, setiap orang bisa mengalami situasi tidak nyaman dalam satu waktu kehidupan dan itu tidak apa apa (it's ok to not be ok). Namun berbahaya, jika keadaan tidak perasaan tak nyaman tersebut berlangsing terus-menerus.
"Sebagian besar pikiran dan perasaan itu nyaman itu bisa berlalu dan hilang tetapi pada beberapa orang hal ini berkembang menjadi suatu hal yang lebih serius sehingga memerlukan intervensi dan pertolongan lebih lanjut," ungkapnya kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Menurut dr. Lahargo, penyebab seseorang bisa menderita gangguan jiwa bermacam-macam atau disebut multifaktorial. Apa saja?
1. Faktor genetik, keturunan
2. Kondisi ibu selama dia mengandung, bila ada gangguan mental, emosional, atau fisik maka akan mempengaruhi saraf otak janin yang dikandungnya.
3. Proses persalinan, bila ada komplikasi maka meningkatkan risiko.
4. Penyakit fisik seperti panas tinggi, kejang, atau penyakit berat lainnya mulai dari lahir sampai usia sekarang.
5. Riwayat jatuh, terbentur kepala, kena pukul atau kecelakaan.
6. Penggunaan Narkoba/Napza seperti alkohol, ganja (cannabis), Synthe, Shabu-shabu, Extasy, obat penenang, heroin (putaw).
7. Riwayat trauma, beban psikologis yang berat, masalah yang sulit diselesaikan, konflik, keinginan yang tidak tercapai, kemarahan yang terpendam, kesedihan yang mendalam, kehilangan, kekecewaan.
Menurut dr. Lahargo, semua penyebab di atas membuat keseimbangan zat kimia di otak (neurotransmiter) menjadi berubah dan tidak stabil "Inilah yang memunculkan adanya perubahan pada cara berpikir, perasaan, sikap, dan perilaku," ungkapnya.
"Apabila dideteksi dengan lebih cepat maka gangguan jiwa akan lebih mudah diterapi, diobati sehingga yang bersangkutan dapat pulih dan produktif kembali," tutupnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=CrSgAZLVGvI&ab_channel=JawaPos

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
