Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Desember 2020 | 21.05 WIB

WHO Sebut Penyintas Covid-19 yang Terinfeksi Lagi Makin Bertambah

Ilustrasi pasien Covid-19. (Chis/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi pasien Covid-19. (Chis/Jawa Pos)

JawaPos.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa data terbaru menunjukkan orang yang pernah terinfeksi virus Korona dapat terjangkit lagi ketika respons antibodi mereka berkurang. Hal itu dipengaruhi oleh sistem imun dalam tubuh.

"Kami telah melihat jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah, kami juga melihat data yang muncul bahwa antibodi mungkin tidak seumur hidup, dan oleh karena itu kami mungkin melihat infeksi ulang mulai terjadi," kata Direktur Eksekutif Kesehatan dan Program Darurat WHO dr. Mike Ryan, di Jenewa seperti dilansir dari CNBC, Minggu (6/12).

"Jadi pertanyaannya adalah bagaimana masyarakat bisa melindungi dirinya," tambahnya.


Infeksi ulang berarti seseorang yang terserang virus telah pulih dan kemudian terinfeksi lagi sesuai laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC AS. Namun, para peneliti mencoba menemukan tingkat risiko dan intensitas infeksi ulang terjadi lewat berbagai pertimbangan. Seperti seberapa parah infeksi ulang dan seberapa cepat hal itu dapat terjadi setelah infeksi pertama.

Kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan, para peneliti masih mencoba untuk menentukan berapa lama antibodi bertahan setelah seseorang terinfeksi virus tersebut. Dan tak dipengaruhi seberapa parah gejalanya.

"Yang kami pahami adalah 90 persen hingga 100 persen orang yang terinfeksi virus Korona akan mengembangkan respons antibodi, baik jika mengalami infeksi ringan, infeksi tanpa gejala, hingga infeksi parah," katanya.

"Penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan kekebalan dapat berlangsung selama enam bulan atau lebih," katanya.

Sebelumnya, dalam studi Oxford baru-baru ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang tertular virus Korona sangat tidak mungkin untuk tertular penyakit itu lagi setidaknya selama enam bulan. Studi yang dilakukan antara April dan November pada 12.180 petugas kesehatan yang dipekerjakan di Rumah Sakit Universitas Oxford, menemukan bahwa 89 dari 11.052 staf tanpa antibodi mengembangkan infeksi baru dengan gejala. Tak satu pun dari 1.246 staf dengan antibodi mengembangkan gejala infeksi.

"Pada beberapa orang, ini mungkin berkurang setelah beberapa bulan, tapi kami mendapatkan indikasi yang baik bahwa respon imun infeksi alami berlangsung selama beberapa bulan," kata Van Kerkhove.

Pada akhir Agustus, para peneliti di Hong Kong melaporkan kasus seorang pria berusia 33 tahun yang pertama kali terinfeksi virus pada akhir Maret tertular virus lagi, setelah lebih dari empat bulan kemudian seperti laporan STAT News dilaporkan. WHO mengakui pada saat itu bahwa, meskipun jarang, infeksi ulang bisa terjadi.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=526sG5fCz0U

 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore