Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Desember 2025 | 02.08 WIB

Operasi Tulang Belakang Butuh Akurasi Tingkat Tinggi, Spinal Neuronavigation Jadi Solusi

Ilustrasi prosedur operasi pemasangan implan brain-spine interface untuk pemulihan kelumpuhan akibat cedera tulang belakang. (SCMP) - Image

Ilustrasi prosedur operasi pemasangan implan brain-spine interface untuk pemulihan kelumpuhan akibat cedera tulang belakang. (SCMP)

JawaPos.com – Operasi tulang belakang dikenal sebagai tindakan yang membutuhkan tingkat presisi sangat tinggi karena bekerja di area sempit yang berdekatan dengan struktur saraf vital. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi Spinal Neuronavigation, sistem navigasi canggih layaknya GPS yang dirancang untuk meningkatkan akurasi dan keamanan prosedur bedah tulang belakang.

dr. Dimas Rahman Setiawan, SpBS, MARS, FTB, FINSS, menjelaskan bahwa kasus Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) dan spinal stenosis memerlukan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Area operasi yang sempit membuat kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak besar pada saraf pasien.

Neuronavigasi, katanya, bekerja seperti GPS intraoperatif yang memetakan anatomi pasien secara 3D sehingga dokter dapat “melihat” struktur di balik tulang tanpa membuka jaringan otot secara luas.

“Teknologi ini memungkinkan dokter "melihat" struktur di balik tulang tanpa harus melakukan pembukaan otot yang lebar,” jelasnya dalam Launching Alat Neuronavigasi di Gedung Annex, Rumah Sakit Jakarta, Kamis (11/12).

Teknologi ini membantu menentukan batas tulang yang perlu diangkat saat melakukan laminotomi, memastikan stabilitas tetap terjaga, serta menurunkan risiko cedera iatrogenik dan pendarahan. Instrumen yang dilacak secara sub-milimeter di layar monitor memungkinkan dokter bergerak lebih aman dan presisi sepanjang tindakan.

Senada, Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS, Subsp. N-TB, SpKP, FINSS, FINPS, AAK, menyoroti manfaat neuronavigasi dalam operasi skoliosis. Rotasi dan kelengkungan ekstrem pada tulang belakang kerap membuat penanda anatomi sulit dikenali secara konvensional.

Dengan panduan navigasi, pemasangan pedicle screw dapat dilakukan lebih aman karena trajektorinya diarahkan tepat di dalam pedicle, menghindari risiko melukai saraf maupun pembuluh darah besar.

Selain itu, teknologi ini mempermudah dokter merencanakan strategi derotation untuk mengembalikan keseimbangan tubuh secara fisiologis, baik pada bidang sagittal maupun koronal.

Pada sesi penutup, dr. Danu Rolian, SpBS, FINSS, FINPS, memaparkan peran neuronavigasi dalam prosedur Kyphoplasty untuk menangani fraktur kompresi tulang belakang yang umum terjadi akibat osteoporosis atau trauma. Meski minimal invasif, prosedur ini memiliki risiko kebocoran semen jika jalur jarum tidak tepat.

Neuronavigasi membantu memastikan jarum masuk tepat di pusat badan vertebra secara simetris, sehingga balon dapat mengembalikan tinggi tulang yang runtuh secara optimal dan mencegah deformitas kifosis jangka panjang.

Terakhir, Ketua Yayasan Rumah Sakit Jakarta, Prof. dr. Budi Sampurna, Sp.F, SH, DFM, Sp.KP, menyampaikan bahwa penerapan Spinal Neuronavigation merupakan langkah strategis untuk meningkatkan standar pelayanan.

“Ini bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi bentuk komitmen Rumah Sakit Jakarta dalam menjamin keselamatan pasien pada tingkat tertinggi,” pungkasnya. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore