Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 14.58 WIB

Kontroversi MSG: Manfaat dan Risikonya Bagi Kesehatan Sesuai dengan Fakta Ilmiah

Bubuk MSG (dok. freepik)

JawaPos.com - Monosodium glutamate atau yang lebih dikenal dengan MSG telah lama menjadi bahan tambahan pangan yang memicu perdebatan. Sebagian orang menganggapnya sebagai penyedap rasa yang aman, sementara lainnya percaya bahwa MSG berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan. Polemik inilah yang membuat MSG terus menjadi topik hangat dalam dunia gizi dan kesehatan.

Melansir Medical News Today, MSG pertama kali ditemukan pada tahun 1908 oleh Profesor Kikunae Ikeda dari Jepang. Ia mengekstrak glutamat dari rumput laut kombu, melarutkannya dalam air, lalu menambahkan natrium hidroksida hingga terbentuk MSG. Dari sinilah muncul istilah rasa kelima, yakni umami, yang melengkapi rasa manis, asin, asam, dan pahit.

Sebagai asam amino alami, glutamat banyak terdapat dalam makanan sehari-hari, mulai dari sayuran seperti wortel, kubis, dan bawang, hingga sumber protein seperti keju, telur, ikan teri, dan udang. Selain secara alami, MSG juga bisa dihasilkan melalui proses fermentasi dari bahan nabati maupun hewani, seperti molase, tebu, bit gula, kacang-kacangan, jamur, hingga rumput laut.

Sejak awal penemuannya, MSG banyak digunakan di Asia karena kemampuannya memperkaya cita rasa makanan. Penggunaannya kemudian meluas ke negara Barat, meskipun awalnya disambut dengan skeptisisme. Kini, MSG hadir tidak hanya di masakan restoran, tetapi juga dalam makanan olahan seperti makanan beku, sup kalengan, saus salad, hingga susu formula bayi.

Selain di dunia kuliner, MSG juga memiliki peran dalam pertanian. Produk bernama AuxiGro yang mengandung MSG digunakan sebagai pupuk, pestisida, sekaligus pemicu pertumbuhan tanaman agar hasil panen lebih optimal.

Mitos dan Fakta Seputar MSG

Salah satu anggapan keliru yang sering ditemui adalah bahwa MSG mengandung garam berlebihan. Padahal, kadar natrium dalam MSG hanya sekitar 12 persen, jauh lebih rendah dibandingkan garam dapur yang mencapai 40 persen. Beberapa penelitian bahkan menilai MSG dapat menjadi alternatif pengganti garam untuk menekan asupan natrium dan menurunkan risiko hipertensi.

Mitos lain menyebutkan bahwa makanan yang mengandung MSG juga pasti mengandung gluten. Kenyataannya, gluten adalah protein dari gandum yang berbeda dari glutamat. Glutamat berperan sebagai neurotransmitter penting dan digunakan tubuh untuk memproduksi asam amino lain, sehingga tidak berkaitan dengan masalah intoleransi gluten.

Banyak pula yang beranggapan bahwa jika label kemasan tidak mencantumkan MSG, maka produk tersebut bebas MSG. Faktanya, MSG dapat terbentuk secara alami dari bahan makanan tertentu. Jadi, meskipun tidak ada tambahan MSG buatan, makanan tetap bisa mengandung MSG alami dari bahan bakunya.

Ada pula mitos bahwa tubuh tidak mampu memproses MSG dengan baik. Nyatanya, tubuh manusia memiliki banyak reseptor glutamat, baik di saluran pencernaan maupun sistem saraf. Penelitian menunjukkan bahwa glutamat dari MSG diproses tubuh sama halnya dengan glutamat dari makanan alami. Bahkan, beberapa studi menemukan konsumsi MSG dapat meningkatkan sensitivitas reseptor glutamat dalam usus.

Kontroversi "Chinese Restaurant Syndrome"

Kontroversi besar terkait MSG muncul di Amerika Serikat pada tahun 1968, ketika Dr. Robert Ho Man Kwok melaporkan gejala seperti mati rasa, rasa terbakar di leher, kelemahan, dan jantung berdebar setelah makan di restoran Cina. Media kemudian mengaitkan gejala ini dengan penggunaan MSG, sehingga lahirlah istilah “Chinese restaurant syndrome”.

Namun, sejumlah penelitian lanjutan tidak menemukan bukti konsisten yang menghubungkan MSG dengan gejala tersebut. Survei besar yang dilakukan terhadap lebih dari 3.000 orang menunjukkan kurang dari 2 persen responden yang melaporkan keluhan serupa setelah mengonsumsi MSG.

Kini, istilah “Chinese restaurant syndrome” dianggap bermuatan rasisme dan xenofobia, karena menstigmatisasi kuliner Asia. Para ahli lebih memilih istilah yang netral, yaitu “MSG symptom complex”, untuk menggambarkan kemungkinan reaksi tubuh terhadap MSG, meskipun kasusnya sangat jarang dan tidak konsisten.

Risiko Kesehatan 

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore