Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 20.37 WIB

Black Death: Wabah Paling Mematikan dalam Sejarah Manusia

Ilustrasi dari Black Death, Wabah Paling Mematikan di Sejarah Dunia. (historic-uk.com) - Image

Ilustrasi dari Black Death, Wabah Paling Mematikan di Sejarah Dunia. (historic-uk.com)

JawaPos.com - Dalam sejarah panjang umat manusia, tak banyak peristiwa yang mampu mengguncang fondasi sosial, ekonomi, dan spiritual, seperti yang dilakukan oleh Black Death. Wabah ini bukan sekadar penyakit, melainkan sebuah tragedi global yang mengubah arah peradaban.

Terjadi pada pertengahan abad ke-14, Black Death diperkirakan telah merenggut nyawa sekitar 75 hingga 200 juta orang di Eropa, Asia, dan Afrika. Penyebab utamanya adalah bakteri Yersinia pestis, yang menyebar melalui kutu yang hidup di tubuh tikus.

Melansir laman durham.ac.uk, menurut Durham University dan sumber klasik seperti karya Rosemary Horrox, wabah ini menyebar dengan kecepatan yang mencengangkan, menewaskan sebagian besar populasi dalam hitungan bulan.

Di Eropa, kota-kota seperti Florence, Paris, dan London menjadi pusat kehancuran. Giovanni Boccaccio, penulis Decameron, menggambarkan suasana Florence saat itu sebagai “kota kematian” di mana orang-orang meninggal tanpa sempat dikuburkan secara layak.

Sementara itu, di Timur Tengah, sejarawan Arab Ibn al-Wardi mencatat bagaimana wabah menyapu wilayah Suriah dan Mesir, menewaskan ribuan orang dan melumpuhkan aktivitas sosial.

Efek dari Black Death tidak hanya terasa dalam jumlah korban jiwa. Wabah ini memicu perubahan sosial besar-besaran, dari sistem feodalisme yang mulai runtuh, tenaga kerja menjadi langka, dan masyarakat mulai mempertanyakan otoritas gereja serta struktur kekuasaan yang ada.

Seperti yang dijelaskan dalam laman oerproject.com, banyak komunitas minoritas seperti Yahudi menjadi sasaran tuduhan dan kekerasan, memperparah krisis kemanusiaan yang terjadi.

Dalam tinjauan ilmiah modern, seperti yang dipublikasikan oleh Unique Scientific Publishers, Black Death diklasifikasikan sebagai wabah zoonotik yang terdiri dari tiga bentuk yaitu, bubonic, pneumonic, dan septicemic plague.

Ketiganya memiliki tingkat kematian yang tinggi dan menyebar melalui berbagai jalur, termasuk udara dan kontak langsung.

Kini, hampir 700 tahun setelahnya, Black Death tetap menjadi pengingat akan rapuhnya peradaban manusia di hadapan kekuatan alam.

Ia bukan hanya catatan sejarah, tapi juga pelajaran tentang pentingnya solidaritas, ilmu pengetahuan, dan kesiapsiagaan menghadapi krisis global. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore