
Ilustrasi dari Black Death, Wabah Paling Mematikan di Sejarah Dunia. (historic-uk.com)
JawaPos.com - Dalam sejarah panjang umat manusia, tak banyak peristiwa yang mampu mengguncang fondasi sosial, ekonomi, dan spiritual, seperti yang dilakukan oleh Black Death. Wabah ini bukan sekadar penyakit, melainkan sebuah tragedi global yang mengubah arah peradaban.
Terjadi pada pertengahan abad ke-14, Black Death diperkirakan telah merenggut nyawa sekitar 75 hingga 200 juta orang di Eropa, Asia, dan Afrika. Penyebab utamanya adalah bakteri Yersinia pestis, yang menyebar melalui kutu yang hidup di tubuh tikus.
Melansir laman durham.ac.uk, menurut Durham University dan sumber klasik seperti karya Rosemary Horrox, wabah ini menyebar dengan kecepatan yang mencengangkan, menewaskan sebagian besar populasi dalam hitungan bulan.
Di Eropa, kota-kota seperti Florence, Paris, dan London menjadi pusat kehancuran. Giovanni Boccaccio, penulis Decameron, menggambarkan suasana Florence saat itu sebagai “kota kematian” di mana orang-orang meninggal tanpa sempat dikuburkan secara layak.
Sementara itu, di Timur Tengah, sejarawan Arab Ibn al-Wardi mencatat bagaimana wabah menyapu wilayah Suriah dan Mesir, menewaskan ribuan orang dan melumpuhkan aktivitas sosial.
Efek dari Black Death tidak hanya terasa dalam jumlah korban jiwa. Wabah ini memicu perubahan sosial besar-besaran, dari sistem feodalisme yang mulai runtuh, tenaga kerja menjadi langka, dan masyarakat mulai mempertanyakan otoritas gereja serta struktur kekuasaan yang ada.
Seperti yang dijelaskan dalam laman oerproject.com, banyak komunitas minoritas seperti Yahudi menjadi sasaran tuduhan dan kekerasan, memperparah krisis kemanusiaan yang terjadi.
Dalam tinjauan ilmiah modern, seperti yang dipublikasikan oleh Unique Scientific Publishers, Black Death diklasifikasikan sebagai wabah zoonotik yang terdiri dari tiga bentuk yaitu, bubonic, pneumonic, dan septicemic plague.
Ketiganya memiliki tingkat kematian yang tinggi dan menyebar melalui berbagai jalur, termasuk udara dan kontak langsung.
Kini, hampir 700 tahun setelahnya, Black Death tetap menjadi pengingat akan rapuhnya peradaban manusia di hadapan kekuatan alam.
Ia bukan hanya catatan sejarah, tapi juga pelajaran tentang pentingnya solidaritas, ilmu pengetahuan, dan kesiapsiagaan menghadapi krisis global. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022