Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 17.00 WIB

Penyakit Lyme: Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya yang Perlu Diketahui

Kutu Penyebab Penyakit Lyme (Canva)


JawaPos.com - Penyakit Lyme adalah salah satu penyakit menular yang bisa menyerang manusia melalui perantara gigitan kutu. Penyakit ini berhubungan dengan bakteri Borrelia yang hidup pada tubuh kutu.

Penyakit Lyme banyak ditemukan di wilayah Amerika Utara, Eropa, hingga Asia. Meski begitu, kasusnya bisa muncul di negara lain dengan lingkungan yang mendukung hidup kutu.

Gejala penyakit Lyme sering kali mirip penyakit lain sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Oleh sebab itu, penting mengenali penyebab, tanda, dan cara pengobatan penyakit Lyme.

Dilansir dari Mayo Clinic, berikut ini penyebab, gejala, komplikasi, hingga langkah pencegahan serta pengobatan penyakit Lyme yang penting diketahui.

Baca Juga: Bella Hadid Ungkap Perjuangannya Melawan Penyakit Lyme Selama 15 Tahun

Penyebab Penyakit Lyme

Penyakit Lyme disebabkan oleh bakteri Borrelia yang ditularkan melalui gigitan kutu rusa atau kutu berkaki hitam. Kutu ini membawa bakteri setelah mengisap darah hewan inang.

Di Amerika Serikat, kutu rusa menjadi perantara utama penyakit ini. Sementara di Eropa, spesies kutu berbeda juga terbukti menjadi pembawa bakteri Borrelia yang menyebabkan penyakit Lyme.

Kutu dapat mengisap darah inang selama beberapa hari hingga tubuhnya membesar. Jika kutu terinfeksi menggigit manusia, bakteri Borrelia dapat masuk ke aliran darah.

Baik kutu muda maupun kutu dewasa bisa menularkan penyakit Lyme. Kutu muda sulit terlihat karena ukurannya kecil, sehingga banyak orang tidak sadar sudah tergigit.

Baca Juga: Fakta Penyakit Lyme Justin Bieber di Indonesia dan Pengobatannya

Gejala Penyakit Lyme

Tahap 1: Gejala Awal

Dilansir dari laman Halodoc, gejala awal penyakit Lyme biasanya muncul 3–30 hari setelah gigitan kutu. Pada tahap ini gejala masih terbatas namun cukup khas.

Ruam berbentuk lingkaran yang perlahan menyebar dari titik gigitan menjadi tanda paling umum. Namun, tidak semua penderita penyakit Lyme mengalami ruam khas tersebut.

Ruam bisa tampak seperti sasaran dengan bagian tengah lebih bening. Biasanya terasa hangat saat disentuh, tetapi tidak gatal atau menyakitkan.

Gejala awal lain meliputi demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, sendi kaku, serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Tahap 2: Penyakit Menyebar

Tanpa pengobatan, penyakit Lyme memasuki tahap kedua dalam 3–10 minggu setelah gigitan kutu. Pada tahap ini infeksi mulai menyebar ke bagian tubuh lain.

Gejalanya bisa berupa banyak ruam di tubuh, leher kaku, serta kelemahan otot pada salah satu sisi wajah. Kondisi ini bisa memburuk bila tidak ditangani.

Gangguan irama jantung, nyeri yang menjalar dari punggung ke kaki, hingga mati rasa pada anggota tubuh juga dapat muncul.

Selain itu, infeksi dapat memengaruhi mata dengan menyebabkan pembengkakan jaringan, nyeri, hingga gangguan penglihatan yang serius.

Tahap 3: Adanya Penyakit Lanjut

Gejala tahap ketiga biasanya muncul dua bulan hingga satu tahun setelah gigitan. Pada tahap ini, keluhan lebih berat dan sering menyerang persendian.

Artritis pada sendi besar, terutama lutut, menjadi kondisi paling umum. Sendi terasa nyeri, kaku, membengkak, bahkan gejalanya bisa datang dan pergi.

Di Eropa, penyakit Lyme dapat menyebabkan akrodermatitis atrofik kronis. Kondisi ini membuat kulit pada tangan dan kaki berubah warna serta menipis.

Dalam kasus berat, penyakit Lyme tahap lanjut dapat menyebabkan kerusakan jaringan, sendi, hingga sistem saraf yang mengganggu kualitas hidup penderita.

Pengobatan dan Pencegahan

Dilansir dari laman Halodoc, penyakit Lyme dapat diobati dengan antibiotik, terutama bila terdeteksi sejak awal. Pengobatan biasanya berlangsung 2–4 minggu tergantung tingkat keparahan gejala.

Jika tidak diobati dengan benar, gejala bisa menetap meskipun bakteri telah hilang. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom pasca penyakit Lyme atau PTLDS.

Pencegahan terbaik adalah menghindari gigitan kutu dengan memakai pakaian tertutup saat berada di hutan atau padang rumput.

Penggunaan obat antikutu, seperti repelan mengandung permetrin pada pakaian dan perlengkapan, juga efektif untuk mencegah gigitan kutu penyebab penyakit Lyme.

Penyakit Lyme memang tidak selalu mudah dikenali karena gejalanya mirip dengan penyakit lain. Namun, kesadaran sejak dini sangat membantu penyembuhan.

Diagnosis cepat melalui pemeriksaan medis memungkinkan penderita mendapatkan antibiotik yang tepat. Hal ini mencegah infeksi menyebar lebih jauh ke organ tubuh.

Masyarakat yang sering beraktivitas di alam bebas, terutama hutan dan padang rumput, sebaiknya selalu berhati-hati terhadap kutu penyebab penyakit Lyme.

Langkah sederhana seperti memakai baju panjang, menggunakan repelan, serta memeriksa kulit setelah dari luar rumah dapat menurunkan risiko.

Dengan pencegahan dan pengobatan tepat, penyakit Lyme bisa dikendalikan dan penderita dapat kembali beraktivitas dengan sehat tanpa komplikasi serius.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore