Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 23.24 WIB

Pernapasan Hidung vs Mulut: Mana yang Lebih Sehat dan Mengapa?

Ilustrasi seorang perempuan yang sedang fokus melakukan pernapasan (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernapasan adalah proses vital yang sering kita lakukan tanpa disadari. Namun, cara kita bernapas, apakah melalui hidung atau mulut, memberikan dampak besar bagi kesehatan. Bernapas lewat hidung tidak hanya membantu menyaring udara, tetapi juga meningkatkan kadar oksigen sekaligus melindungi tubuh dari infeksi.

Melansir dari Medical News Today, proses pernapasan terjadi ketika otot diafragma yang terletak di bawah paru-paru bergerak secara ritmis. Saat diafragma berkontraksi, rongga dada membesar dan tekanan di dalam paru-paru menurun sehingga udara masuk melalui hidung atau mulut. Ketika diafragma rileks, ukuran rongga dada mengecil dan udara pun terdorong keluar.

Perbandingan Pernapasan Hidung dan Mulut

Bernapas melalui hidung memiliki banyak keunggulan. Hidung berperan menyaring, memanaskan, dan melembapkan udara sebelum mencapai paru-paru. Udara yang masuk menjadi lebih bersih dan lembap, sehingga risiko infeksi atau iritasi berkurang.

Hidung juga menghasilkan nitric oxide, senyawa yang membantu meningkatkan kinerja pembuluh darah serta mendukung distribusi oksigen yang lebih baik ke jaringan tubuh. Ini membuat pernapasan hidung jauh lebih efisien dibandingkan pernapasan mulut.

Sebaliknya, bernapas lewat mulut sebaiknya hanya dilakukan saat hidung tersumbat atau ketika melakukan aktivitas fisik berat. Jika menjadi kebiasaan, pernapasan mulut bisa menimbulkan masalah seperti gigi berlubang, penyakit gusi, kesulitan menelan, dan perubahan bentuk rahang.

Udara yang tidak disaring melalui mulut dapat memperparah gejala asma atau meningkatkan risiko infeksi pernapasan. Udara dingin dan kotor yang langsung masuk ke paru-paru membuat tubuh lebih rentan terhadap iritasi dan penyakit.

Penelitian menunjukkan bahwa bernapas melalui hidung saat berolahraga dapat menurunkan risiko hiperventilasi. Selain itu, pernapasan hidung membantu menjaga ritme napas dan meningkatkan daya tahan tubuh selama aktivitas fisik.

Beberapa studi juga mengungkap bahwa pernapasan hidung meningkatkan aktivitas otak dan memperkuat koneksi antarbagian otak. Hal ini mendukung fokus dan kemampuan berpikir, sedangkan manfaat ini tidak ditemukan pada pernapasan mulut.

Kebiasaan bernapas lewat mulut sejak usia dini bahkan dapat menghambat pertumbuhan. Anak-anak yang bernapas melalui mulut cenderung mengalami perubahan pada struktur rahang dan posisi gigi, serta berisiko mengalami gangguan pertumbuhan akibat menurunnya hormon pertumbuhan.

Perbedaan Oksigenisasi

Perbedaan efisiensi oksigenasi menjadi alasan penting untuk memilih pernapasan hidung. Saat bernapas lewat hidung, otot pernapasan terutama diafragma bekerja lebih optimal sehingga paru-paru menyerap lebih banyak oksigen. Sebaliknya, pernapasan mulut mengurangi aktivitas otot pernapasan dan membuat suplai oksigen tidak maksimal.

Jika kebiasaan bernapas lewat mulut disebabkan masalah struktural pada hidung atau mulut, tindakan medis seperti operasi atau penggunaan alat gigi mungkin dibutuhkan. Namun bagi banyak orang, perubahan gaya hidup dan latihan pernapasan dapat membantu mengembalikan kebiasaan bernapas melalui hidung.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore