Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 September 2025 | 03.22 WIB

Fenomena Sleep Paralysis: Pengaruh Ilmiah dari Kesehatan atau Hanya Mitos Menyeramkan?

Ilustrasi seorang wanita yang merasa pusing ketika bangun tidur (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seorang wanita yang merasa pusing ketika bangun tidur (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Kelumpuhan tidur atau sleep paralysis sudah dikenal manusia sejak ratusan tahun lalu. Fenomena ini sering dianggap menyeramkan karena membuat seseorang sadar namun tidak bisa bergerak ataupun berbicara. Pada masa lalu, pengalaman ini kerap dikaitkan dengan makhluk halus atau roh jahat yang menindih tubuh di malam hari. 

Catatan medis pertama tentang fenomena ini muncul pada abad ke-17 dari dokter Belanda, Isbrand Van Diembroeck. Ia menulis tentang seorang wanita sehat yang kerap merasa seperti ada setan atau sosok gelap menindih dadanya hingga sulit bernapas dan bergerak.

Saat ini, kelumpuhan tidur dipahami sebagai gangguan tidur yang umum dan umumnya tidak berbahaya. Kondisi ini terjadi ketika seseorang sadar, tetapi tubuhnya masih berada dalam keadaan lumpuh akibat mekanisme tidur.

Meski secara medis tidak menimbulkan kerusakan permanen, pengalaman ini sangat menakutkan karena sering disertai halusinasi yang terasa nyata dan menimbulkan ketakutan mendalam.  

Melansir dari Medical News Today, peneliti membagi halusinasi dalam kelumpuhan tidur menjadi tiga kategori. 

  1. Sensed presence, yaitu perasaan ada sosok asing atau ancaman di dalam ruangan. 
  2. Halusinasi incubus, di mana seseorang merasa ada sesuatu yang menekan dada atau mencekik.
  3. Halusinasi vestibular-motor, yang melibatkan sensasi melayang, terbang, atau keluar dari tubuh. 

Kelumpuhan tidur dapat muncul di berbagai waktu dalam siklus tidur. Ada yang terjadi saat baru tertidur (hypnagogic), di tengah tidur (hypnomesic), atau menjelang bangun tidur (hypnopompic).

Penelitian menyebutkan bahwa kelumpuhan tidur di tengah siklus tidur paling sering dialami, biasanya setelah 1-3 jam seseorang terlelap. Kondisi ini menjelaskan mengapa pengalaman tersebut sering terasa seperti mimpi buruk yang tiba-tiba menjadi nyata.  

Meski jarang, tidak semua orang mengalami sisi menyeramkan dari kelumpuhan tidur. Sebagian kecil justru merasakan sensasi positif, terutama mereka yang mengalami halusinasi vestibular-motor. Sensasi melayang atau keluar dari tubuh bisa memberikan rasa damai, bahkan kebahagiaan.

Secara ilmiah, kelumpuhan tidur terjadi saat seseorang berada di fase tidur REM (rapid eye movement). Pada fase ini, tubuh memang dibuat lumpuh secara alami agar tidak bertindak sesuai mimpi. Masalahnya, terkadang otak terbangun lebih cepat sementara tubuh masih "terkunci." 

Akibatnya, seseorang sadar namun tidak bisa bergerak. Otak yang masih berada di ambang mimpi juga bisa menciptakan halusinasi yang terasa sangat nyata, sehingga batas antara mimpi dan realitas menjadi kabur.  

Dikutip melalui Pubmed Central, sekitar 7-8 persen populasi dunia pernah mengalami kelumpuhan tidur setidaknya sekali seumur hidup. Angka ini bahkan lebih tinggi pada remaja dan mahasiswa, yang biasanya memiliki pola tidur tidak teratur.

Risiko juga meningkat pada orang dengan kebiasaan tidur buruk, sering begadang, atau tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama. Selain itu, kelumpuhan tidur bisa menjadi gejala dari gangguan tidur tertentu, seperti narkolepsi, meski banyak kasus terjadi secara terpisah.  

Walaupun belum ada obat khusus, ada beberapa langkah sederhana untuk mencegah kelumpuhan tidur. Misalnya, menjaga pola tidur tetap teratur, menghindari tidur telentang, serta tidak terlalu sering begadang. Mengurangi konsumsi alkohol dan rokok juga bisa membantu. 

Saat serangan terjadi, sebagian orang berhasil menghentikannya dengan mencoba menggerakkan jari tangan atau kaki. Teknik relaksasi, meditasi, dan terapi perilaku kognitif juga dapat membantu, terutama bagi mereka yang sering terganggu halusinasi menakutkan. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore