
Ilustrasi seseorang yang sedang memilih filter pada foto dirinya sebelum diunggah ke media sosial (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Di era digital yang serba visual, media sosial kini telah menjadi ruang utama bagi banyak orang, terutama generasi muda, untuk mengekspresikan diri. Namun, di balik tren membagikan swafoto (selfie) dengan tampilan sempurna yang dibantu oleh filter, terdapat sisi lain yang mengkhawatirkan.
Sisi tersebut yakni munculnya tekanan terhadap citra tubuh dan meningkatnya gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphia. Seperti dilansir dari laman Newport Institute, Senin (21/7), disebutkan bahwa individu, terutama dewasa muda, yang sering menggunakan filter wajah di media sosial cenderung mengalami ketidakpuasan terhadap penampilan mereka di dunia nyata.
Mereka tidak hanya membandingkan diri dengan foto-foto selebritas atau influencer yang terlihat ideal, tetapi juga dengan versi diri mereka sendiri yang telah diedit dan dimanipulasi filter. Perbandingan yang terjadi terus-menerus ini dapat mengikis kepercayaan diri dan memperburuk citra tubuh secara keseluruhan.
Fenomena yang Munculkan Filter Dysmorphia
Fenomena ini dikenal sebagai filter dysmorphia atau Snapchat dysmorphia, yakni kondisi di mana seseorang merasa sangat terganggu oleh "ketidaksempurnaan" wajah atau tubuhnya sendiri setelah terlalu sering melihat dirinya melalui filter yang menyempurnakan penampilan.
Filter-filter ini biasanya membuat kulit tampak lebih mulus, hidung lebih ramping, mata lebih besar, bahkan membentuk wajah menyerupai standar kecantikan tertentu yang cenderung tidak realistis. Dalam banyak kasus, kondisi ini mendorong seseorang untuk mengalami semacam keterputusan antara penampilan mereka yang sebenarnya dan penampilan mereka di media sosial.
Mereka mulai melihat tubuh mereka sebagai objek yang harus diperbaiki atau ditingkatkan, bukan sebagai bagian dari identitas diri yang harus diterima dan dihargai. Proses ini disebut sebagai self-objectification, di mana seseorang mulai menilai nilai diri mereka dari tampilan luar semata.
Bisa Timbulkan Keinginan untuk Operasi Plastik
Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi ini tidak jarang mendorong penderitanya untuk mencari solusi instan dalam bentuk tindakan medis, seperti prosedur bedah kosmetik atau perawatan wajah ekstrem, demi terlihat seperti versi digital diri mereka yang sudah difilter. Menurut Newport Institute, orang-orang yang kecanduan menggunakan aplikasi penyunting wajah juga lebih berisiko mempertimbangkan atau melakukan operasi plastik.
Tak hanya soal tekanan penampilan, banyak filter juga dituding mengandung bias rasial. Beberapa filter secara otomatis mencerahkan warna kulit, memperkecil hidung, dan memodifikasi fitur wajah agar lebih mendekati standar kecantikan Eropa.
Standar yang sempit ini secara tidak langsung menyingkirkan keberagaman dan mengarahkan pengguna untuk merasa bahwa penampilan alami mereka kurang ideal atau bahkan tidak diterima secara sosial. Kecenderungan ini tidak hanya berdampak pada individu secara pribadi, tetapi juga memperkuat budaya perfeksionisme di ruang digital.
Alih-alih menjadi platform untuk ekspresi diri yang autentik, media sosial kerap berubah menjadi etalase kecantikan palsu yang menciptakan tekanan kolektif: semua orang harus tampil sempurna, kapan pun dan di mana pun.
Bisa Timbulkan Masalah Kesehatan Lebih Luas dalam Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, paparan terhadap standar kecantikan yang tidak realistis ini berisiko menimbulkan masalah kesehatan mental yang lebih luas. Rasa cemas, depresi, isolasi sosial, hingga rendahnya harga diri menjadi efek domino yang tak bisa diabaikan.
Maka dari itu, penting bagi pengguna media sosial, terutama generasi muda, untuk membangun kesadaran kritis dalam menggunakan teknologi ini. Edukasi tentang kesehatan mental, literasi digital, serta penerimaan diri menjadi kunci penting dalam menangkal dampak negatif filter dan budaya perbandingan sosial.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
