Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Juni 2025 | 02.05 WIB

Sindrom Kepala Tertunduk Jika Dibiarkan Bisa Terjadi Kerusakan Permanen Struktur Leher

Ilustrasi ibu marah kepada anak dengan memberi label sama seperti ayahnya yang sering main hp saat diajak ngobrol. - Image

Ilustrasi ibu marah kepada anak dengan memberi label sama seperti ayahnya yang sering main hp saat diajak ngobrol.

JawaPos.com - Pernah melihat seseorang yang tampak terus-menerus menunduk seolah dagunya mendekat ke dada? Bisa jadi orang tersebut mengalami sindrom kepala tertunduk atau dropped head syndrome. Kondisi ini bukan sekadar postur membungkuk, melainkan gangguan serius pada otot-otot leher yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya. 

Sindrom kepala tertunduk adalah kumpulan gejala akibat kelemahan otot-otot belakang leher. Hal ini menyebabkan deformitas atau perubahan bentuk pada leher yang berdampak pada aktivitas sehari-hari. 

“Penderitanya terlihat seperti terus-menerus menunduk, dan ini bukan hanya masalah penampilan, tapi juga menyangkut gangguan fungsi otot dan saraf,” ujar dr Reyner Valiant Tumbelaka MKed Klin SpOT.  

Sindrom kepala tertunduk bisa disebabkan oleh berbagai gangguan neuromuskular. Yakni, kelainan pada saraf dan otot. Namun, betulkah penggunaan gawai juga termasuk penyebabnya?

"Postur leher yang buruk saat menggunakan gawai dalam waktu lama memang bisa menyebabkan kaku dan nyeri. Tapi, tidak secara langsung menyebabkan dropped head syndrome, karena ini lebih berkaitan dengan kelemahan otot," jelas dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi Mayapada Hospital Surabaya itu.  

Meski begitu, posisi tubuh saat bekerja dengan komputer atau gawai tetap perlu diperhatikan. Terutama bagi para pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. “Gunakan posisi duduk yang ergonomis, sejajarkan layar dengan mata, dan jangan lupa istirahat serta lakukan peregangan ringan secara berkala,” saran dokter Reyner. 

Sindrom ini bukan hanya menyerang kalangan lansia. Anak-anak hingga remaja pun bisa mengalaminya, meskipun lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Karena itu, penting bagi semua kalangan untuk memperhatikan postur tubuh dan kebiasaan sehari-hari.  

Gejala yang umum muncul tidak hanya perubahan postur. Keluhan lain yang sering dirasakan antara lain kaku dan lemah di leher serta bahu, kesulitan menelan, hingga perubahan cara berjalan. Dalam kondisi tertentu, penderita juga bisa mengalami kesemutan di tangan dan kelemahan pada anggota gerak atas. 

Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi itu bisa memburuk. “Dalam jangka panjang, bisa terjadi kerusakan permanen pada struktur leher, perubahan bentuk tulang belakang, hingga gangguan saraf yang mengganggu mobilitas,” sambung.

“Latihan terbaik adalah latihan yang disempatkan. Tak perlu lama-lama, yang penting konsisten," katanya. Dengan memperhatikan postur, rutin berolahraga, dan peka terhadap gejala-gejala awal, sindrom kepala tertunduk bisa dicegah sebelum mengganggu aktivitas.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore