Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Mei 2025 | 02.55 WIB

Apa Benar Makanan Ultra-Proses Bisa Sebabkan Parkinson? Ini Temuan Studinya

Ilustrasi parkinson. (Freepik) - Image

Ilustrasi parkinson. (Freepik)

JawaPos.com – Peneliti dari Universitas Fudan, Tiongkok, bekerja sama dengan Prof. Alberto Ascherio dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menemukan kaitan antara konsumsi tinggi makanan ultra proses dengan gejala awal penyakit Parkinson.

Mengutip dari The Harvard Gazette, studi ini menggunakan data lebih dari 40.000 tenaga kesehatan yang dilacak sejak pertengahan 1980-an. Pada 2010-an, peserta menjawab pertanyaan terkait gejala nonmotorik awal Parkinson.

Hasilnya, orang yang mengonsumsi sekitar 11 porsi makanan ultra-proses per hari memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar mengalami gejala awal Parkinson dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi dua hingga tiga porsi.

Parkinson diketahui berkembang perlahan dan bisa dimulai 10 hingga 15 tahun sebelum munculnya gejala khas seperti tremor.

Karena itu, para peneliti memilih untuk mempelajari tanda-tanda awal (prodromal) yang muncul jauh sebelum diagnosis resmi dilakukan.

Penelitian ini fokus pada tiga gejala prodromal yang umum dan mudah dinilai.

Pertama, gejala bertindak saat bermimpi, yang dikonfirmasi oleh pasangan tidur peserta.

Kedua, penurunan indra penciuman (hiposmia), yang diuji menggunakan alat "scratch-and-sniff" yang dikirim ke rumah peserta. Terakhir gejala konstipasi.

Kombinasi dari ketiga gejala ini hanya ditemukan pada sekitar dua persen lansia, tetapi mereka yang mengalaminya memiliki risiko 23 kali lebih besar berkembang menjadi Parkinson.

Ascherio mengakui bahwa studi ini memiliki keterbatasan, termasuk kemungkinan penafsiran terbalik yaitu, bukan makanan yang menyebabkan gejala, tetapi justru gejala yang mengubah pola makan.

Untuk mengurangi kemungkinan ini, peneliti menggunakan data pola makan dari tahun 1986, jauh sebelum gejala dinilai pada 2012.

"Jika konsumsi tinggi sudah terjadi jauh sebelumnya, kecil kemungkinan gejala yang memicu perubahan diet," kata Ascherio.

Ia juga mencatat kemungkinan adanya faktor lain yang tidak terukur dalam studi ini.

"Kami belum tahu apakah ada komponen spesifik dalam makanan ultra-proses yang bersifat toksik," katanya.

(*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore