Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 April 2025 | 18.24 WIB

Mengenal Diabetes pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Solusi

Ilustrasi hari diabetes sedunia. (Pexels.com)

JawaPos.com - Peringatan Hari Diabetes Nasional yang jatuh setiap 18 April menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyakit diabetes. Termasuk pada kelompok usia anak-anak. Sebab, diabetes bukan lagi penyakit yang menyerang orang dewasa. Dalam satu dekade terakhir, kasus diabetes pada anak menunjukkan peningkatan.

Data yang dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan prevalensi anak penderita diabetes meningkat 70 kali lipat. Dari 0,028 per 100 ribu anak pada tahun 2010 menjadi 2 anak per 100 ribu pada 2023. Kini, tercatat hampir 2.000 anak di Indonesia hidup dengan diabetes.

Mayoritas diabetes melitus (DM) pada anak merupakan tipe 1 yang disebabkan oleh gangguan autoimun, bukan semata pola hidup. “Hampir 90 persen DM pada anak merupakan tipe 1, di mana terjadi kerusakan sel beta pankreas penghasil insulin akibat reaksi autoimun. Faktor genetik dan lingkungan turut berperan,” ujar dr Faisal SpA(K) MKes.

Meski demikian, gaya hidup tetap menjadi faktor penting yang tak bisa diabaikan. Pola makan tinggi gula dan karbohidrat, serta kebiasaan sedentary alias kurang gerak, telah memicu kenaikan kasus diabetes tipe 2 pada anak-anak.

“Pola hidup tidak sehat berisiko menimbulkan obesitas dan resistensi insulin. Inilah yang menjadi cikal bakal DM tipe 2,” ujar Dokter Anak Konsultan Endokrinologi Anak RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung itu.

Gejala awal diabetes pada anak sejatinya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Orang tua perlu mewaspadai tanda-tanda klasik yang disebut trias poli atau 3P. Yakni, poliuria, polidipsi, dan polifagia.

“Anak sering buang air kecil (poliuria), bahkan mengompol di malam hari, lebih sering merasa haus (polidipsi), dan makan lebih banyak (polifagia) tetapi berat badannya tidak naik, malah justru makin kurus. Anak juga bisa tampak lemas dan tidak bertenaga,” beber dokter Faisal.

Untuk mencegah komplikasi serius, deteksi dini menjadi langkah kunci. Saat ini, Kementerian Kesehatan telah memasukkan skrining diabetes ke dalam layanan cek kesehatan gratis. Pemeriksaan awal dilakukan dengan kuesioner, lalu dilanjutkan tes gula darah jika dinilai berisiko.

Bila anak sudah terdiagnosis, orang tua tidak perlu panik. Penanganan diabetes pada anak kini sudah komprehensif dan memungkinkan anak menjalani hidup normal layaknya anak lainnya.

“Penanganan DM tipe 1 mencakup lima pilar utama: suntikan insulin, nutrisi seimbang, aktivitas fisik, edukasi yang berkelanjutan, serta monitoring gula darah mandiri. Sedangkan DM tipe 2 umumnya cukup dengan obat oral,” kata dokter Faisal.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore