Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 November 2016 | 01.07 WIB

Era JKN, Lansia Wajib Cegah Risiko Penyakit Degeneratif

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com – Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menginginkan lansia tetap berdaya dan mandiri. Jika lansia sudah memiliki asuransi dan terintegrasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), disarankan agar mereka memeriksa kesehatan secara rutin. Pasalnya, penyakit degeneratif seringkali menyedot biaya klaim lebih banyak saat ini.



“Jadi kalau memang lansia sudah punya asuransi yang asuransinya sudah diintegrasikan dengan BPJS, sebaiknya lakukan pencegahan terhadap penyakit. Pergilah ke Posbindu periksakan diri secara rutin, cek diabetes, hiperkolesterol, dan hipertensi. Karena itulah yang akan sedot biaya penyakit kronisnya untuk pengobatannya,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Lies Karmawati.



Lansia di era JKN harus tetap bugar, sehat, harus periksakan diri secara teratur, olahraga teratur, makan dan istirahat teratur serta manajemen stres. Hal ini harus terus menerus diinformasikan pada lansia sehingga mereka lebih sehat dan mandiri.  



Bicara status gizi lansia, saat ini kondisi lansia yang kurang gizi sangat sedikit. Status gizi lansia masih tergolong baik. Hanya saja, lansia banyak berisiko penyakit tidak menular seperti kolesterol, asam urat, diabetes, dan hipertensi.



“Kami belum mengintervensi gangguan gizi ini. Kita baru mengintervensi untuk monitoring gangguan penyakit tak menularnya. Dengan pemeriksaan ruitn gula darah, kolesterol, dan asam urat. Tetapi mereka juga harus mandiri,” katanya.



Dinas Kesehatan Kota Depok tengah berupaya agar lansia yang tidak memiliki asuransi dan berasal dari keluarga tak mampu, untuk didaftarkan dalam golongan PBI (Penerima Bantuan Iuran). Program ini merupakan biaya APBD. Pihaknya saat ini tengah melakukan pendataan secara ketat terhadap para lansia.



“PBI penerima bantuan iuran semacam BPJS. Kita sedang melakukan pendataan untuk itu. Kita sedang data karena sebelumnya kan harus sekeluarga. Kalau keluarga itu mampu, yang kita bayarin kan hanya lansianya aja. Pendataan harus ketat,” jelasnya.



Jumlah lansia sesuai struktur kependudukan kota Depok berbanding lurus dengan jumlah balita yaitu sebanyak 10 persen atau 200 ribu orang. Rata-rata jumlah lansia diatas 60-70 tahun menempati populasi paling banyak.



Sinergitas antara masing-masing instansi juga terus ditingkatkan untuk mewujudkan Kota Ramah Lansia. (cr1/JPG)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore