Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Juni 2024 | 00.23 WIB

Cerita Anak Menjadi Caregiver Untuk Ibunda Yang Terkena Demensia, Diari Jadi Sarana Komunikasi Penting

SUPPORT SYSTEM: Dari kiri, DY Suharya, Yaya Suharya, dan Lelly Milaati bercengkrama di rumah Yaya pada Jumat (24/5). - Image

SUPPORT SYSTEM: Dari kiri, DY Suharya, Yaya Suharya, dan Lelly Milaati bercengkrama di rumah Yaya pada Jumat (24/5).

DY Suharya terpukul saat mendengar vonis dokter bahwa sang ibu menderita demensia. Bertekad menjadi caregiver terbaik untuk orang tuanya, dia memprakarsai lahirnya Alzheimer Indonesia (Alzi).

Kini, Alzi hadir di 20 kota Indonesia dan 8 lokasi di mancanegara.

Tien Suhertini Suharya didiagnosis demensia vaskular pada 2009. Kabar itu membuat DY Suharya yang sedang berada di Australia shock. Penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke jaringan otak tersebut membuat Tien mengalami gangguan memori dan perilaku.

Kabar tentang penyakit ibundanya membuat DY harus cepat mengambil keputusan. Saat itu, dia harus memilih antara tetap berkuliah sambil berkarier di Negeri Kanguru atau pulang ke tanah air untuk merawat orang tua yang melahirkannya. ’’Waktu itu yang menguatkan saya adalah merawat orang tua tidak bisa diganti lain waktu, tapi kuliah bisa,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Sampai rumah, dia diajak sang ayah, Yaya Suharya, untuk rapat keluarga bersama kakak-kakaknya. Mereka memetakan hal-hal yang harus dilakukan sebagai caregiver pasien demensia. Mereka juga mengonsultasikan tindakan mereka dengan pihak-pihak yang profesional.

’’Karena sakit itu bisa mengumpulkan semua keluarga,” tutur Yaya saat ditemui di kediamannya pada Jumat (24/5). Selama Tien menjalani perawatan di rumah sakit, Yaya dan anak-anaknya bergantian menunggui. Ada jadwalnya. Selain jadwal menemani Tien, Yaya dan anak-anaknya juga menuliskan tugas harian mereka masing-masing.

Lelly Milawati, misalnya. Anak kedua Yaya itu bertugas mendampingi sang ibu makan karena dialah yang paling sabar. Namun, karena sudah berkeluarga, Lelly pun mau tak mau harus menyelipkan agenda khusus pada jam makan untuk ke rumah orang tuanya.

Sementara, Yaya bertugas memandikan istrinya. ’’Karena penyakit pikunnya (alzheimer), dia tidak mengenali saya dan marah saat dibuka bajunya,” imbuh kakek 94 tahun itu.

Penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan oleh Yaya dan keluarganya sampai menemukan formula yang pas. Menjadi caregiver butuh napas yang panjang. Karena itu, selain tekad yang harus sekuat baja, mereka juga harus punya sabar yang luas. ’’Kalau capek dan ingin me time, kami bilang. Nanti ada yang gantikan tugasnya. Kuncinya harus saling mengerti saja satu sama lain,” tutur Lelly.

Ada banyak kejadian yang mewarnai hari-hari sibuk Yaya dan anak-anaknya. Karena mendampingi pasien demensia butuh ketelatenan, Yaya dan keluarganya memastikan tidak ada langkah yang terlewat. Maka, mereka punya diari yang berisi diagnosis dokter, obat yang diberikan, terapi lainnya, hingga perilaku Tien.

Diari itu menjadi sarana untuk berkomunikasi para caregiver dalam keluarga. Khususnya saat tiba waktunya untuk bertemu dokter. Kondisi Tien sebelum dan sesudah periksa dituliskan secara terperinci dalam diari tersebut. Selanjutnya, Yaya dan anak-anaknya akan membaca update kondisi Tien di buku tersebut. Itu karena mereka masing-masing sudah berkarier dan berkeluarga.

Jumat lalu, Yaya sempat menunjukkan buku yang masih tersimpan rapi tersebut kepada Jawa Pos. Kendati Tien sudah meninggal dunia pada 2019 lalu, Yaya dan anak-anaknya masih menyimpan rapi semua detail kenangan tentang Tien. (lyn/c17/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore