Ilustrasi: Vape sebagai alternatif penghantar nikotin selain tembakau. (Ocean Recovery).
JawaPos.com - Produk tembakau alternatif seperti vape masih menyisakan perdebatan mengenai bahaya bagi tubuh. Padahal dengan pengetahuan yang memadai, manfaat pengurangan faktor risiko dari produk inovasi ini akan semakin terasa.
“Kami percaya bahwa vape mulai diterima oleh masyarakat Indonesia sebagai produk inovatif dari tembakau. Hingga hari ini, tercatat sekitar 1.317 individu atau kelompok di berbagai provinsi yang terdaftar sebagai anggota kami," kata Ketua Umum APVI Budiyanto dalam diskusi peringatan World Vape Day, Jumat (31/5).
"Kondisi saat ini berbeda dibandingkan dengan ketika APVI pertama kali didirikan pada 2015. Ketika itu, masyarakat masih belum banyak mengenal vape. Sekarang, vape sudah dikenal, tetapi tantangannya adalah meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa produk ini rendah risiko,” imbuhnya.
Budi menjelaskan, risiko kesehatan tiap produk tembakau berbeda, terutama antara produk yang dibakar dan tidak. Secara spesifik, sudah banyak kajian di luar negeri yang mengindikasikan vape memiliki risiko lebih rendah daripada produk tembakau konvensional. Namun demikian, belum banyak kajian ilmiah dalam negeri yang dapat mendukung perumusan kebijakan yang berbasis bukti.
“Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat dalam halaman situs resminya mengatakan, produk vape dapat menjadi alternatif berisiko rendah bagi perokok dewasa. Selain itu, mereka yang beralih sepenuhnya kepada vape akan merasakan manfaat yang lebih signifikan dibanding dual user,” ujar Budi.
Pertumbuhan pesat pengguna vape di Indonesia belum diikuti oleh pemahaman yang benar tentang cara pemakaian alat secara bertanggung jawab. Bahkan, sering terjadi penyebaran informasi yang kurang tepat.
“World Vape Day tahun ini mengambil tema Epidemi Mispersepsi. Dalam konteks Indonesia, topik ini sangat relevan dengan beberapa pemberitaan terkini mengenai penggunaan produk vape secara tidak tepat," jelasnya.
Sementara, Sekretaris Jenderal APVI, Garindra Kartasasmita menyampaikan, berdasarkan studi Public Health England menunjukkan vape memiliki risiko lebih rendah hingga 95 persen. Garindra meyakini prinsip-prinsip saintifik adalah fondasi dari perumusan kebijakan publik yang seimbang.
“Kami mendorong lebih banyak wadah berkumpul dan berdiskusi bagi para pelaku dan pegiat industri vape, akademisi, dan pemerintah. Kita harus terus berkolaborasi agar produk vape dapat meyakinkan lebih banyak perokok dewasa untuk berpindah,” tandasnya.