Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 3 September 2022 | 03.03 WIB

Pelatihan USG Metode Blended Learning, Bantu Turunkan AKI-AKB

Ilustrasi peningkatan keterampilan USG Obstetri terbatas di kalangan Dokter Umum sebagai bagian dari upaya menekan umlah kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) yang menjadi sasaran pokok PRJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2025. - Image

Ilustrasi peningkatan keterampilan USG Obstetri terbatas di kalangan Dokter Umum sebagai bagian dari upaya menekan umlah kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) yang menjadi sasaran pokok PRJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2025.

JawaPos.com - 23 Dokter umum PT KAI dari berbagai kota di Indonesia mengikuti pelatihan USG (Ultrasonografi) Obstetri terbatas untuk dokter umum. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Tamarin Jakarta Pusat pada tanggal 27-28 Agustus 2022.

Dokter-dokter tersebut tergabung dalam Komunitas Sonoclub, yakni komunitas dokter-dokter yang antusias memperdalam keterampilan USG untuk praktek sehari-hari.

Ketua komunitas Sonoclub, dr. Akbar Fahmi, menyampaikan bahwa kegiatan ini didorong masih tingginya jumlah kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) yang menjadi sasaran pokok PRJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2025.

Peningkatan keterampilan USG Obstetri terbatas di kalangan Dokter Umum diharapkan dapat berperan serta dalam peningkatan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dalam upaya penurunan AKI dan AKB.

Peningkatan peran FKTP diperkirakan dapat menurunkan AKI sampai 80 persen disertai dengan sistem rujukan yang efektif.

Pelatihan USG obstetri terbatas bagi dokter umum ini dilakukan dengan metode Blended Learning, yaitu gabungan antara metode pembelajaran online dan offline.

Teknisnya, Dokter Umum diberikan pelatihan secara offline (Hands-on) selama 1-2 hari bagaimana melakukan prosedur USG dengan baik dan benar, selanjutnya pendampingan dilakukan oleh dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) secara online sekembalinya dokter tersebut ke daerah masing-masing.

Rekaman materi training dan pendampingan juga dapat diakses kapan saja dan dimana saja melalui koneksi internet. Metode belajar seperti ini memungkinkan dokter tidak perlu cuti praktek terlalu lama.

Metode Blended Learning dalam pelatihan USG ini memiliki fleksibilitas tinggi, sehingga tidak mengganggu aktivitas pelayanan pasien sehari-hari.

Selama proses pendampingan paska training, dokter anggota komunitas Sonoclub dapat berkonsultasi dengan dokter SpOG via online apabila menemui kasus-kasus sulit dalam praktek sehari-hari.

"Inovasi ini memungkinkan model pelatihan USG yang efektif, hemat waktu dan hemat biaya." Jelas dokter millenial yang juga direktur Rumah Sakit NU di Jawa Timur ini.

Dengan metode Blended learning tersebut, diharapkan anggota komunitas Sonoclub dapat berperan aktif dalam membantu mempercepat penurunan AKI dan AKB di Indonesia.

Komunitas Sonoclub saat ini beranggotakan 118 Dokter Umum dari Meulaboh (Aceh) hingga Soe (NTT) yang secara rutin mengadakan kegiatan pembelajaran untuk memperdalam keterampilan USG.

“Semoga dengan inovasi metode belajar USG ini, semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat dan tersentuh layanan USG dalam persiapan persalinan.” pungkas dr. Akbar Fahmi.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore